Showing posts with label Art. Show all posts
Showing posts with label Art. Show all posts

Saturday, May 22, 2021

Another Song Of Silence




Longing for the one:
Like the daylight's longing for the moon
Like the dark night's longing for the sun

But the day can meet the moon
when the twilight is about to disappear
: though only a moment

But the night can meet the sun
when the dawn is about to show up
: though only a moment

Let a cherished moment
take over this silence
Let a precious moment
take over this loneliness
Let the singer sing a song of joy
: take over the sadness

And that moment
: is yet to come


Sunyi, sepi, sendiri...... Sejauh manakah pentingnya kesunyian itu bagi seseorang? Tentunya tergantung bagaimana orang memaknainya. Ada yang butuh dengan kesunyian, ada yang – pada kondisi ekstrim – tidak membutuhkan sama sekali. Bagiku sunyi itu tetap dibutuhkan. Mengapa demikian? Dalam sunyi pintu-pintu ilmu pengetahuan membukakan dirinya bagi pikiran manusia yang sedang mengembara. Dalam hening kita dapat khusyu’ berbicara dengan kata hati sendiri – bahkan ’berbicara’ dengan Sang Pencipta. Dalam sepi ide-ide brilian muncul. Dalam kesendirian karya-karya besar lahir. Tidak sedikit orang besar melahirkan pemikiran-pemikiran agung ketika sedang sendiri dan terasing. Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Gandhi, dan Nelson Mandela adalah contoh orang-orang besar itu.

Lalu lebih penting mana antara sunyi dan ramai? Sekali lagi, tergantung bagaimana memaknai keduanya. Menurutku keduanya saling mengisi. Mengapa demikian? Ide brilian dan pemikiran besar hanyalah sebatas ide dan pemikiran yang tidak pernah dapat terwujud tanpa dilontarkan ke dalam keramaian dalam bentuk diskusi, debat, ceramah, atau dinamika organisasi. Demikian juga dengan sebuah cinta. Tak akan tersambung kalau tidak diucapkan, bukan?

Tetap diperlukan saat-saat tertentu – walau hanya sesaat – untuk menarik diri dari keriuhan. Ilham Khoiri (dalam tajuk ”Dari Tari Kita Berkontemplasi”, Kompas, 9 Agustus 2008) mengatakan:

”Pernahkah kita jenuh dengan rutinitas sehari-hari dan tersudut oleh gempuran berbagai informasi yang mengharu biru? Jika begitu, ada baiknya mencoba diam sejenak, mengambil jeda dari kenyataan riuh, lantas meresapi pergumulan batin sendiri”.
 
Sunyi..... adakalanya, bahkan seringkali, lebih berarti dari keriuhan. 
 
Read more (Baca selengkapnya)...

Saturday, October 16, 2010

“Don’t Try So Hard”



Adakah manusia yang tidak suka dengan musik? Hampir seratus persen dapat dikatakan semua manusia menyukai musik meskipun dengan kadar intensitas dan kegandrungan yang berbeda-beda. Begiru akrabnya musik dengan kehidupan sehari-hari manusia sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa orang yang sama sekali tidak menyukai musik berarti ada yang salah dengan dirinya – something wrong in his/her head.

Bagaimana musik dapat mempengaruhi kehidupan manusia? Baragam tentunya. Tergantung pada tingkat penghayatan, kesukaan, dan apresiasi masing-masing individu. Musik bisa menimbulkan suasana gembira, menghibur, bisa menimbulkan rasa sedih (moody), bisa mengingat nostalgia masa lalu, bisa menginspirasi jiwa seseorang karena di dalam musik – tertutama liriknya – sering mengandung unsur-unsur pembelajaran (educational), dan bahkan bisa mempengaruhi emosi jiwa seseorang. Wow, ternyata pengaruh musik bagi diri manusia bisa sedemikian dahsyat. Makanya menurut saya musik adalah salah satu elemen yang sangat luar biasa dalam peradaban manusia.

Saya pribadi sangat suka dengan musik. Bahkan tidak jarang memetik makna pembelajaran dari berbagai lirik lagu. Apapun genre-nya yang penting enak didengar dan klop dengan telinga. Satu genre musik biasanya cocok untuk suasana tertentu, belum tentu cocok untuk setiap suasana. Misalnya saja genre lagu hard rock (musik cadas keras) tentunya tidak cocok saya stel pada saat sedang ngobrol santai di rumah dengan mertua. Bisa-bisa status saya sebagai menantu kena pecat, hehehe…

Walaupun pada dasarnya saya menyukai berbagai genre musik, tetapi tetaplah yang sering saya stel adalah lagu-lagu berirama rock – terutama sweet rock – jadul di era tahun 70-an sampai 80-an. Maklum masa remaja (teenager) saya di era ini, maka mindset musiknya pun musik jadul. Era tersebut adalah pasca Beatles. Beberapa grup rock papan atas ketika itu antara lain Deep Purple, Led Zeppelin, Genesis, Pink Floyd, Queen, dan masih banyak lagi. Inggeris ketika itu menjadi kiblat musik rock dunia.

Deep Purple beberapa kali gonta-ganti personil. Namun kinerja mereka yang paling prima adalah ketika berlabelkan Deep Purple Mark II; terdiri dari Ian Gillan sebagai vokalis, Ritchie Blackmore pada gitar, John Lord pada keyboards, Roger Glovers tukang cabik bass, dan Ian Paice tukang gebuk drum. Blackmore ketika itu sempat dijuluki para kritikus musik sebagai gitaris rock terbaik dunia. Kepiawaian mereka terasa paling dahsyat dalam album Machine Head, yang ada lagu Highway Star dan Smoke on The Water. Permainan panggung terdahsyat mereka ketika konser di Jepang (berlabelkan Made in Japan), kalau tidak salah tahun 1972 – saya baru kelas II SD. Yang menarik dari aransemen musik Deep Purple ini adalah, karena para personilnya berlatar belakang musik klasik, sesekali terselip aroma alunan suara musik klasik pada keyboards John Lord dan gitarnya Ritchie Blackmore.

Ketika Deep Purple mengadakan konser di JCC Hall Senayan Jakarta, April 2002, saya berkesempatan nonton. Walau aksi panggung masih OK, tetapi sayangnya posisi Ritchie Blackmore digantikan oleh Steve Morsh dan posisi John Lord digantikan oleh Don Airey. Tentunya penampilan mereka tidak lagi segreget ketika berlabel Mark II, disamping karena personilnya sudah gaek semua. Ian Gillan di tahun 2002 sudah berusia 57 tahun. Rentang oktaf suaranya tidak lagi seprima era jayanya Deep Purple.

Led Zeppelin sering memasukkan unsur blues pada aransemennya. Digawangi empat personil, yaitu Robert Plant sebagai vokalis, Jimmy Page pegang gitar, John paul Jones tukang betot bass, dan John Bonham tukang gebuk drum. Siapa yang tak kenal dengan lagu abadi mereka seperti Stairway To Heaven dan Black Dog. Band ini bubar di awal 1980-an setelah John Bonham meninggal dunia. Robert Plant pernah dijuluki kritikus musik sebagai vokalis rock dengan rentang suara oktaf tertinggi (tiga setengah oktaf tanpa falsetto – kalau tidak salah ingat).

Genesis juga sering gonta-ganti personil. Kalau ditulis disini terlalu panjang, silakan baca saja riwayat dan discography mereka di berbagai referensi dan website. Yang tetap eksis solo karir sampai sekarang adalah Phil Collins. Ketika masih ada Peter Gabriel dan Steve Hacket, musik mereka sangat kental bernuansakan cerita-cerita balada, terkadang liriknya prosa-puisi. Lagu Genesis yang paling saya senangi liriknya adalah One For The Vine.

Pink Floyd! Nah, ini dia! Mereka dijuluki sebagai para musisi jenius sekaligus “pemalas” karena mengeluarkan album antara 2 sampai 4 tahun sekali. Personilnya tidak hanya piawai memainkan instrumen musik dan menggubah lirik, tetapi juga menguasai teknologi yang mendukung permainan panggung mereka seperti sound effect, tata lampu, dan sound system. Pokoknya kalau mereka manggung membutuhkan daya listrik ratusan ribu watt. Bisa bikin mati lampu minimal sekota kabupaten. Kalau musim kampanye hemat energi sekarang ini mungkin tidak cocok kalau ngundang Pink Floyd, hehehe… Personilnya yang masih eksis sampai sekarang adalah David Gilmour.

Saya termasuk komplit mengoleksi album Pink Floyd sebab semuanya enak didengar. Sangat tidak kacangan. Aliran musik mereka termasuk progressive rock dan terdengar sangat spatious. Mendengarnya bak berada di alam bawah sadar. Lirik lagu mereka sangat kental dengan kritik sosial. Ketika London dijuluki sebagai “the black city” karena polusi industri yang luar biasa di awal 1970-an, Pink Floyd membuat album Animals. Di dalam album ini ada lagu berjudul Pigs. Mereka mengibaratkan keserakahan manusia (para pemilik modal) seperti babi. Kenapa diibaratkan seperti babi? Mungkin karena babi termasuk binatang omnivora yang memang paling serakah dan memakan apa saja. Bahkan konon kalau kepepet lapar, babi memakan kotorannya sendiri, huwekkk…

Queen muncul lebih belakangan (menjelang pertengahan 1970-an) dibandingkan grup-grup yang telah saya sebut di atas. Dijuluki sebagai grup band intelek karena para personilnya sarjana jebolan universitas-universitas terkemuka di Inggeris. Ciri khas Queen adalah suara koor (choir) dan lengkingan suara falsetto vokalisnya. Queen digawangi oleh Freddy Mercury (vokalis), Roger Taylor (drum), John Deacon (bass), dan Brian May (gitar). Siapa yang tak kenal lagu-lagu seperti Love of My Life, We are The Champions, dan Bohemian Rhapsody.

Dari sisi akademik, saya sangat salut dengan Brian May. Ketika Queen masih baru dibentuk dia sedang kuliah di tingkat doktoral (S-3) di Imperial College London setelah terlebih dulu menggondol gelar sarjana Fisika dan Matematika Terapan dengan predikat degree with honors (semacam cum laude). Saat Queen mulai meroket dia jadi terlalu sibuk, kuliah doktoralnya terpaksa dia hentikan. Belakangan, setelah 30-an tahun stop kuliah, dia meneruskan penulisan disertasinya dan di tahun 2008 berhasil menyandang gelar Doktor (PhD) di bidang Astrofisika dengan disertasi berjudul A Survey of Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud.

Kok saya jadi ngelantur cerita discography musik ya. Padahal tujuan saya menulis artikel ini sebetulnya untuk mengajak teman-teman meresapi salah satu lagu Queen yang berjudul Don’t Try So Hard karena sering banget saya stel. Lagu ini ada di album Innuendo (1991) – album terakhir Queen bersama Freddy Mercury. Setahun setelah album ini dirilis Freddy meninggal karena penyakit HIV-AIDS yang dideritanya. Teman-teman tahu apa itu HIV, bukan? Bagi yang belum saya kasih tahu ya. HIV itu singkatan dari Hemangnya Ike Vikirin, hehehe… Ya, kalau kondisi berbagai tatanan di negara kita banyak yang carut-marut, ada baiknya nggak usah dipikirin, daripada sakit kepala. Mari kita dengerin lagu Don’t Try So Hard ini (mp3-nya di website banyak, tetapi sebaiknya beli CD atau kaset yang asli ya):

Don’t try so hard

If you’re searching out for something -
Don’t try so hard
If you’re feeling kind of nothing -
Don’t try so hard
When your problems seem like mountains
You feel the need to find some answers
You can leave them for another day
Don’t try so hard

But if you fall and take a tumble -
It won’t be far
If you fail you mustn’t grumble -
Thank your lucky stars
Just savour every mouthful
And treasure every moment
When the storms are raging round you
Stay right where you are

Ooohh don’t try so hard
Oooh don’t take it all to heart
It’s only fools they make these rules
Don’t try so hard

One day you’ll be a sergeant major
Oh you’ll be so proud
Screaming out your bloody orders
Hey but not too loud
Polish all your shiny buttons
Dressed as lamb instead of mutton
But you never had to try
to stand out from the crowd

Oh what a beautiful world
Is this the life for me
Oh what a beautiful world
It’s the simple life for me

Oh don’t try so hard
Oh don’t take it all to heart
It’s only fools - they make these rules
Don’t try so hard
Don’t try so hard


Pembelajaran yang dapat dipetik dari lagu ini adalah bahwa dalam hidup ini don’t ry so hard. Jangan terlalu ngotot, jangan terlalu ngoyo, sesuaikan saja dengan kemampuan dan ketahanan terhadap beban pekerjaan. Dan, yang penting hidup harus seimbang. Jasmani-rohani, kantor-rumah (keluarga), kerja-olahraga. Siapakah yang paling membutuhkan kehadiran kita selamanya? Keluarga! Kantor atau instansi tempat kita bekerja pada dasarnya hanya membutuhkan kita selagi kita produktif dan mampu menunjukkan kinerja yang bagus. That's life!

Berdasarkan pengalaman selama ini, seringkali banyak tuntutan urgent dari stakeholders, tetapi belum tentu memuaskan mereka. Lebih tidak enak lagi, kita sudah lembur menyiapkan bahan presentasi untuk pimpinan, tetapi setelah tiba due date-nya dan setelah susah payah disiapkan ternyata tidak jadi digunakan karena acara batal dilaksanakan.

Adalah paradigma yang sangat salah menurut saya jika ada kantor, instansi, atau perusahaan menilai prestasi dan loyalitas karyawan berdasarkan lamanya dia bekerja sampai larut malam, bahkan ada yang sampai dinihari. Padahal yang teramati, karyawan banyak yang lembur karena stakeholders yang terlalu demanding (misalnya ada atasan memberikan instruksi jam 2 sore, diperlukannya besok pagi), manajemen waktu yang tidak baik, tidak ada langkah antisipatif (poor planning), terlalu mangakomodir/mengikuti permintaan dari luar instansi, pimpinan yang terlalu workaholic (kerja sambil minum alkohol, hehehe...), atau memang karyawannya sendiri yang sok-sok-an supaya dibilang rajin (cari muka istilahnya). Cara yang paling benar menilai kinerja karyawan adalah berdasarkan kualitas output yang dihasilkannya.

Wajarlah mengapa waktu kerja efektif dibatasi 40 jam seminggu atau 8 jam sehari (selama 5 hari kerja) karena kemampuan optimal psikologis manusia memang sebatas itu. Lebih dari itu sudah “dipaksakan” dan akan mulai “menggerogoti” organ-organ tubuh vital. So kalau sudah terasa terlalu berat, lebih baik angkat bendera putih. Eight hours is enough! Bila perlu dikampanyekan, hehehe...

Saya kurang sependapat dengan pepatah Barat yang mengatakan don't put until tomorrow what you can do today. Saya lebih setuju dengan apa yang dikatakan penyanyi pop legendaris Lobo: don't spend too much of today on yesterday. Kalau tidak selesai dalam sehari, “You can leave it for another day”, kata Queen. Namun di sisi lain, tentu saja kita harus pandai membuat skala prioritas sekaligus konsisten dalam mengerjakan urut-urutannya. Jika tidak, kita jadi tidak perform sama sekali.

Di bait kedua lagu ini ada yang menarik: …. if you fall and take a tumble - it won’t be far. Kalau mesti “tertinggal” usahakan jangan terlalu jauh ketinggalan. Tetap usahakan dikejar, tetapi, sekali lagi, sesuaikan dengan kemampuan dan prinsip keseimbangan hidup. It’s only fools they make these rules. Aturan-aturan yang ada (selain berbasis Kitab Allah) hanyalah buatan manusia.

Saya tidak percaya dengan berbagai buku yang ditulis para motivator yang mengatakan “kemampuan anda sesungguhnya tak terbatas, anda hanya belum mengeksplor-nya”. Menurut saya tetaplah pada diri manusia itu ada batasannya. Ada dua hal yang membatasi: takdir Tuhan dan kapabilitas diri sendiri (termasuk kesehatan dan kekuatan fisik). Dan distribusi level batasan tersebut secara statistik seperti kurva Z distribusi normal. Makanya tidak setiap orang dapat/mampu menjadi pimpinan. Tetapi tidak semua orang pula mesti jadi anak buah terus. Yang lebih penting dari sekedar jadi pimpinan adalah memiliki jiwa kepemimpinan.

Saya menulis artikel ini bukan untuk men-discourage teman-teman yang berambisi untuk step-up ke puncak tangga sukses. This is only the way it should be. Lagipula arti sukses itu sendiri perlu didefinisi ulang. Menurut yang pernah saya dengar dari salah seorang yang sering memberikan pencerahan, orang sukses-mulia adalah orang yang mampu berbagi harta, tahta, kata, dan cinta untuk orang lain. After all… the choice is ours! Pilihan ada pada diri individu masing-masing. Tetapi tetap satu hal yang harus diingat: keluarga andalah yang membutuhkan anda selamanya (seumur hidup anda).
Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, May 28, 2009

Happy First Anniversary, My Blog


Large groups of people are inherently smarter than en elite few.

May 2008 was the first time I posted an article in this blog. It has been one year behind. I remember that time I was a little bit doubtful to develop a blog – whether I could consistently update it or not, or whether it was going to be a burden instead of “leisure”.

Since the beginning of 2008 I’ve been quite involved in several discussions. Through meetings, emails, mailing lists, or others’ blogs. My comments in the discussions were often long and thorough – this was what my colleagues told me. Some fellows then encouraged me to generate my own blog to accommodate my sole opinions in writing. One of them even gave me a book about blogging. I started thinking “why not”. Beside those fellows, I was also inspired by my teenage kids. The teenagers in this era are much more familiar with the “cyber space” than parents of my generation. It's interesting to see the kids exploring the cyber space.

First thing to determine was the topics of my blog. I have educational backgrounds in petroleum engineering and development studies. I currently work in an oil company. So that’s why major issues I raise in this blog are pertaining to energy, governance, industries, and sometimes social. Honestly I don’t have expertise in either one of those. I am just a learner. But in my point of view, any discipline of knowledge is not someone’s monopoly. Not expert’s monopoly, not scholar’s monopoly, not intellectual’s monopoly, not even the monopoly of an elite few. Everyone has the right to learn, to understand, to broaden his/her knowledge, to be involved in, and then to provide comments or suggestions. Nowadays there are millions of references that can be accessed through internet. They are all valuable sources of information for those who want to learn.

The very fundamental questions are, why and what I write for. So why I write? I write because I want to write. I never judge myself as someone who has a writing talent and so on and so on, but simply just because I want to write. Certainly, to be able to write I have to allocate my time for it. I don’t play golf or other long duration sports during weekend. After some physical exercises and before I do something (normally hanging out) for my children, I use part of my weekend morning time to open my laptop computer and start knocking my fingers on keyboard. Sometimes if there is an idea in week days, I write after dinner time at home until getting sleepy. If not finished in one day, will be continued on the other days – whenever convenient. If no idea or not in a good mood, I don’t force myself to produce an article. I just put things easy, relax, no burden, no pressure. Like a management jargon: KISS – keep it simple and smile.

What I write for? First, to express my own perspective. Someone’s perspective is often unique, different between one and another. Second, as a “pressure relief”. After busy week days in the office, after coping with terrible Jakarta traffic, after often feeling frustrated with the systems, after often getting bored with routines, then I need a relief. Writing is an effective way to get rid of those things whilst still performing positive attitude.

Third, according to a psychologist (I forget when and where I read this thing), writing can keep your mind “sharpened” and therefore it can slow down the mental aging process. Remember Stephen R. Covey’s seven habits of highly effective people, habit number 7 is “sharpen the saw”. Fourth, to share. I want to share with people regarding what I am learning. Probably there is some sort of benefit that can be extracted from my words.

Fifth, to keep in touch with my friends and people, as well as to get more friends. I am very happy when my hit counter tells me a number of people visiting my blog. From the hit counter’s statistics, around 85% of my visitors are those who directed by search engines into my blog. Meaning, more and more new friends everyday, eventhough we only meet in virtual world.

Blog is a grass root journalism. Everyone can write and discuss anything in blog – with still uphold code of ethics of course – without barrier and without bureaucracy.

In general, based on my one year of experience, writing in blog is sharpening, entertaining, and relieving. So why don’t you develop one of your own — if not yet.

After all…. this is just another blog...

Let me have a freedom to fly without a shadow,
and to sing without an echo.

Last but not least, I thank all those who have visited my blog, either periodically or directed by search engines. Keep blogging, keep learning. Happy anniversary, my blog. Cheers…
Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, May 21, 2009

Bahasa Daerah Lampung Terancam Punah [?]


When a language dies, the world loses valuable cultural heritage - a great deal of the legends, poems and the knowledge gathered by generations is simply lost.
(UNESCO)

Bahasa adalah penciri utama sekaligus “ruh” suatu budaya yang membedakan budaya itu dengan budaya lainnya. Cara orang makan, berpakaian, dan lain-lain tradisi yang diekspresikan dengan tindakan nyata (perbuatan fisik) boleh saja sama atau serupa antara satu bangsa/etnik dengan bangsa/etnik lainnya, tetapi manakala kita mendengar “bahasa” yang terucap, maka akan segera tampak ciri perbedaan itu. “Bahasa menunjukkan bangsa”, demikian kata sebuah pepatah.

Dalam situs BBC edisi 9 Mei 2009, Lembaga kebudayaan PBB, UNESCO, mengatakan, lebih dari sepertiga dari 6.000 bahasa di dunia terancam punah. Dari sekitar 2.000 bahasa tersebut, menurut UNESCO, sekitar 200 dipakai oleh sekelompok kecil penutur. Nenek Marie Smith Jones adalah penutur terakhir Bahasa Eyak, salah satu sub etnik Indian di Alaska. Meninggal pada bulan Januari 2008 dalam usia 89 tahun. Bahasanya ikut terkubur bersamanya. Lalu Ivan Skoblin, satu dari 25 penutur terakhir Bahasa Os, Siberia Tengah, yang masih hidup.

Provinsi Lampung secara geografis terletak di ujung selatan Pulau Sumatera. Walaupun merupakan tempat transit dan relatif dekat dengan pusat pemerintahan Indonesia, namun hingga saat ini (paling tidak sepengetahuan saya yang bukan ahli budaya ini) sangat sedikit literatur yang secara komprehensif membahas budaya Lampung. Memang agak paradoks kedengarannya. Di satu sisi secara geografis termasuk dekat dengan pusat pemerintahan (dan karenanya dekat pula dengan berbagai institusi kebudayaan), namun di sisi lain seakan termarjinalkan dari kancah literatur budaya – sering luput dari mata para akademisi.

Lampung memiliki “bahasa daerah” tersendiri yang khas dan membedakannya dari bahasa-bahasa daerah lain. Sastra tutur maupun tulisan sebetulnya sudah lama menjadi bagian inti budaya masyarakat Lampung. Bahkan Bahasa Lampung memiliki aksara (huruf) sendiri. Namun kelihatannya masih minim eksplorasi dan dokumentasi.


Seperti halnya provinsi-provinsi lain yang terletak di Sumatera bagian selatan, Lampung merupakan provinsi yang kaya “bahasa-bahasa asli”. Sebetulnya penutur bahasa asli Lampung tidak hanya berada di Provinsi Lampung saja, tetapi juga ada di Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Banten. Sebut saja ada 10 sub dialek Lampung yang masing-masing cukup mempunyai ciri khas dan berbeda antara satu dengan yang lain. Di Provinsi Lampung ada sub dialek Way Kanan, Menggala, Abung, Sungkai, Pubian, Melinting, Pesisir Barat, dan Pesisir Selatan. Di Provinsi Sumatera Selatan ada sub dialek Komering (Kayu Agung dan Martapura). Di Cikuning, Provinsi Banten, ada sub dialek Lampung Cikuning. Di samping itu, di dalam Provinsi Lampung sendiri ada kelompok masyarakat di Lampung Utara (Kasuy dan Bukit Kemuning) sebagai penutur sub dialek Bahasa Semendo yang sudah turun temurun. Keragaman bahasa ini tentunya menunjukkan keragaman budaya (cultural diversity) yang merupakan modal sosial (social capital) masyarakat Lampung.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan juga desakan Bahasa Indonesia, beberapa kalangan mengkhawatirkan bahwa dalam 100 tahun mendatang Bahasa Lampung akan mengalami kepunahan. Hal ini berangkat dari kenyataan sehari-hari bahwa makin lama penutur Bahasa Lampung makin mengecil persentasinya – bahkan di kalangan masyarakat Lampung asli sendiri.

Ada beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi penyebab berkurangnya penutur bahasa asli Lampung:
  • Bahasa asli Lampung termasuk heterogen, antara penutur sub dialek yang satu dengan yang lain terkadang tidak saling mengerti, sehingga komunikasi sering dirasa tidak lancar. Akhirnya agar tidak menimbulkan salah pengertian, mereka menggunakan Bahasa Indonesia.
  • Di wilayah urban, masyarakat keturunan asli Lampung sendiri cenderung tidak lagi menggunakan Bahasa Lampung sebagai bahasa ibu. Begitu anaknya lahir, langsung diajarkan berbahasa Indonesia. Walaupun masih memerlukan observasi lebih lanjut, saya tengarai gejala ini sudah merambat ke wilayah pedesaaan juga.


  • Seingat saya dulu (saya generasi SMA awal 80-an), teman-teman sekolah saya di Lampung paling-paling hanya separuh yang penutur Bahasa Lampung walaupun mereka dari garis keturunan asli Lampung. Teman-teman yang lidahnya kental dengan logat Lampung cenderung menjadi bahan tertawaan oleh teman yang lain, karena memang pengucapan fonetik “el” dan “er” sangat spesifik bagi lidah Lampung.

  • Ada semacam fenomena “malu berbahasa Lampung” di kalangan masyarakat asli Lampung sendiri. Merasa lebih prestisius dan modern jika berbahasa Indonesia. Anak-anak asli Lampung dari pedesaaan yang bersekolah di kota banyak yang tidak lagi mau menggunakan Bahasa Lampung ketika pulang ke desanya.


  • Dari sekitar 7,5 juta penduduk Provinsi Lampung, yang dari garis keturunan asli Lampung paling-paling hanya 30% saja. Maka barangkali untuk tujuan praktis dan agar dapat lancar berkomunikasi dengan kelompok masyarakat pendatang, akhirnya banyak penutur Bahasa Lampung yang menggunakan Bahasa Indonesia.


  • Terjadi perkawinan campur sari antara sub etnik Lampung yang satu dengan yang lain, atau antara suku Lampung dengan suku non Lampung, sehingga - lagi-lagi untuk tujuan praktis - anak-anak mereka diajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

  • Masyarakat asli Lampung tidak memiliki semacam bahasa persatuan daerah yang bisa mengkonservasi masing-masing sub dialek, atau bahasa pemersatu daerah yang bisa menjadi perekat antar penutur sub dialek tetapi sekaligus tetap menjaga kelestarian sub dialek penuturnya. Berbeda dengan di Provinsi Sumatera Selatan, misalnya, yang memiliki Bahasa Melayu Palembang sebagai bahasa pemersatu daerah.


  • Hegemoni Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Saya kira ini tidak hanya dialami oleh Bahasa Lampung saja, tetapi juga bahasa-bahasa daerah lain, dimana banyak bahasa daerah semakin terdesak oleh pemakaian Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi.


  • Di era globalisasi ini banyak orang bersikap pragmatis, alias cari yang praktis-praktis saja. Dengan dalih agar sasaran komunikasi yang efektif dan efisien bisa tercapai, orang cenderung berkiblat pada nilai-nilai budaya kompromistis yang bisa diterima masyarakat yang lebih luas ketimbang budaya aslinya sendiri.

Bagaimana mesti menyikapi bahasa daerah Lampung jika memang terancam punah? Tentu saja jawabannya tergantung sejauh mana pentingnya bahasa daerah ini bagi stakeholders-nya. Bagi pihak yang tidak menganggap penting barangkali akan menganggap kepunahan bahasa itu merupakan sebuah proses alamiah biasa saja. Toh banyak bahasa besar jaman dahulu juga mengalami kepunahan. Bahasa Latin adalah bahasa imperium Romawi yang dipakai di tiga benua (paling tidak Eropa Selatan dan Tengah, Afrika Utara, dan wilayah Asia Barat). Siapa nyana bahasa ini sekarang hanya digunakan dalam sebatas penulisan ilmiah – seperti dalam ilmu Biologi beserta cabangnya. Lalu Bahasa Sanskerta sempat mendominasi wilayah Asia Selatan, Timur, dan Asia Tenggara. Bahasa besar ini juga punah, tinggal aksaranya saja yang tersisa.

Bagi pihak yang menganggap penting dan menganggap bahasa daerah merupakan elemen budaya yang strategis, ya tentunya Bahasa Lampung ini harus dijaga jangan sampai menuju kepunahan. Menghidupkan Bahasa Lampung tentunya tidak hanya sekedar membuat kurikulum mata pelajaran di sekolah atau menuliskan padanan aksara Lampung di papan nama jalan raya, tetapi menjadikannya sebagai bahasa tutur aktif.

Pilihan ada pada pihak-pihak yang merasa berkepentingan, terutama para ahli waris Bahasa Lampung. Di dalam setiap bahasa daerah tersimpan petatah-petitih yang digali dari kearifan lokal – yang bila direvitalisasi dapat memberikan energi positif untuk membangun karakter manusia. Menghidupkan bahasa daerah tidak berarti etnosentris, bukan? Keragaman bahasa ibarat mozaik indah yang berwarna-warni.

UNESCO mengatakan, When a language dies, the world loses valuable cultural heritage - a great deal of the legends, poems and the knowledge gathered by generations is simply lost. Ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga – sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah.

Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, July 17, 2008

Voice of The Voiceless (Suara yang Tak Memiliki Hak Suara)



Dari pengertian tata kelola pemerintahan (governance) yang luas cakupannya, masyarakat mestinya merupakan salah satu aktor yang secara aktif dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Hanya saja pengaruh dan peranan masing-masing kelompok masyarakat akan berbeda-beda. Kelompok elit yang terorganisir dan mempunyai kepentingan tentunya dapat mempunyai pengaruh yang kuat dalam proses pengambilan keputusan. Sedangkan kelompok masyarakat bawah yang tidak mempunyai akses ke pusat kekuasaan serta jauh dari pusat informasi, akan sangat kecil peranannya. Bahkan cenderung tereksploitasi oleh pengambil keputusan. Akhirnya termarjinalkan.

Seringkali orang-orang termarjinalkan tersebut sebetulnya mempunyai kapabilitas untuk duduk di jajaran pimpinan pemerintahan ataupun perusahaan. Bahkan banyak yang lebih cerdas dan lebih bermoral daripada incumbent (pemegang jabatan saat ini). Namun waktu dan kesempatan tidak berpihak pada mereka. Ada yang karena tidak dipedulikan oleh para pengambil keputusan, ada yang karena lingkungannya tidak kondusif untuk melakukan kreativitas, ada yang karena lingkungannya tidak cukup ‘cerdas’ untuk memberinya kesempatan tampil, ada yang karena lingkungannya lebih mementingkan kemampuan ‘public relations’ tenimbang kemampuan teknis, ada juga yang memang tidak berminat. Lalu apa sikap hati yang mesti diambil oleh orang-orang termarjinalkan ini? Saya teringat Gede Prama pernah mengutip kata-kata Zenkei Shibayama, seorang biarawan Zen dari Jepang, dalam Scripture of No Letters:

A flower does not talk:
silently a flower bloom
in silence it falls away…
pure and fresh are the flowers with dew….
Then calmly I read the true world of no letters


Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya lebih kurang:

Bunga tidak pernah bicara:
mekar tanpa suara
berguguran tanpa suara….
segar dan murni bunga bersiramkan embun pagi….
Dalam hening, terbaca olehku makna ‘tanpa kata’ yang sesungguhnya


Ya, bunga memang tidak pernah bicara. Dipuja atau disingkirkan, dia tetap menyimpan sejuta pesona...... Pesona keindahan tanpa kata…..
Read more (Baca selengkapnya)...