Showing posts with label Enlightning. Show all posts
Showing posts with label Enlightning. Show all posts

Saturday, May 22, 2021

Another Song Of Silence




Longing for the one:
Like the daylight's longing for the moon
Like the dark night's longing for the sun

But the day can meet the moon
when the twilight is about to disappear
: though only a moment

But the night can meet the sun
when the dawn is about to show up
: though only a moment

Let a cherished moment
take over this silence
Let a precious moment
take over this loneliness
Let the singer sing a song of joy
: take over the sadness

And that moment
: is yet to come


Sunyi, sepi, sendiri...... Sejauh manakah pentingnya kesunyian itu bagi seseorang? Tentunya tergantung bagaimana orang memaknainya. Ada yang butuh dengan kesunyian, ada yang – pada kondisi ekstrim – tidak membutuhkan sama sekali. Bagiku sunyi itu tetap dibutuhkan. Mengapa demikian? Dalam sunyi pintu-pintu ilmu pengetahuan membukakan dirinya bagi pikiran manusia yang sedang mengembara. Dalam hening kita dapat khusyu’ berbicara dengan kata hati sendiri – bahkan ’berbicara’ dengan Sang Pencipta. Dalam sepi ide-ide brilian muncul. Dalam kesendirian karya-karya besar lahir. Tidak sedikit orang besar melahirkan pemikiran-pemikiran agung ketika sedang sendiri dan terasing. Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Gandhi, dan Nelson Mandela adalah contoh orang-orang besar itu.

Lalu lebih penting mana antara sunyi dan ramai? Sekali lagi, tergantung bagaimana memaknai keduanya. Menurutku keduanya saling mengisi. Mengapa demikian? Ide brilian dan pemikiran besar hanyalah sebatas ide dan pemikiran yang tidak pernah dapat terwujud tanpa dilontarkan ke dalam keramaian dalam bentuk diskusi, debat, ceramah, atau dinamika organisasi. Demikian juga dengan sebuah cinta. Tak akan tersambung kalau tidak diucapkan, bukan?

Tetap diperlukan saat-saat tertentu – walau hanya sesaat – untuk menarik diri dari keriuhan. Ilham Khoiri (dalam tajuk ”Dari Tari Kita Berkontemplasi”, Kompas, 9 Agustus 2008) mengatakan:

”Pernahkah kita jenuh dengan rutinitas sehari-hari dan tersudut oleh gempuran berbagai informasi yang mengharu biru? Jika begitu, ada baiknya mencoba diam sejenak, mengambil jeda dari kenyataan riuh, lantas meresapi pergumulan batin sendiri”.
 
Sunyi..... adakalanya, bahkan seringkali, lebih berarti dari keriuhan. 
 
Read more (Baca selengkapnya)...

Friday, April 30, 2010

Manusia Sebagai Khalifah (Wakil) Tuhan di Muka Bumi dan Asal-usul Manusia


Dalam bukunya yang berjudul “Even Angels Ask” (bahkan Malaikat pun bertanya), Jeffrey Lang, seorang mualaf asli Amerika Serikat dan Dosen Matematika di University of Kansas (mungkin sekarang beliau sudah jadi Profesor) memberikan semacam pencerahan bagaimana caranya membangun sikap ber-Islam yang kritis dengan tetap berada dalam koridor keimanan dan kebenaran Alqur’an yang hak, tanpa mesti terjebak dengan pola pikir liberal. Karena membaca pandangan-pandangan beliau inilah saya terinspirasi untuk menulis artikel pendek ini.

Topik artikel ini melibatkan dua disiplin keilmuan sekaligus: agama dan biologi. Meskipun saya bukan ahli dari salah satu kedua disiplin ilmu tersebut, namun pertanyaan menyangkut asal-usul manusia sudah lama ‘mengganggu’ pemikiran saya. Saya yakin cukup banyak orang lain yang juga merasa ‘terganggu’ oleh pertanyaan tentang asal-usul manusia ini. Saya mengangkat isu ini – tentunya bukan hal baru – berangkat dari landasan pemikiran bahwa siapapun berhak mempertanyakan atau mendiskusikannya jika hal itu dapat menambah tingkat keimanan kepada Sang Khalik, Pencipta alam semesta beserta isinya.

Yang saya ketahui saat ini ada dua kubu teori tentang asal-muasal makhluk hidup: teori evolusi (evolution) dan teori penciptaan (creation). Teori evolusi digagas oleh Charles Robert Darwin (1809-1882) ketika tahun 1859 untuk yang pertama kalinya Darwin menerbitkan bukunya yang berjudul “On The Origin of Species by Means of Natural Selection”. Kalau saya terjemahkan dengan bahasa saya sendiri kira-kira artinya “asal-muasal spesies makhluk hidup sebagai hasil dari seleksi alam”. Buku ini mendokumentasikan hasil-hasil pemikiran sekaligus menjelaskan Teori Evolusi Darwin.

Saya sendiri hingga saat ini belum sempat membaca langsung buku Darwin tersebut meskipun sering terbit ulang; bahkan ada esisi terjemahan Bahasa Indonesianya. Beberapa pokok Teori Evolusi menurut yang saya baca dari beberapa referensi antara lain:
  • Beberapa spesies makhluk hidup, seperti misalnya antara manusia dan bangsa kera modern, berbagi nenek moyang yang sama dari ordo primata.

  • Darwin mempostulatkan apa yang dia sebut dengan “survival among the fittest”; artinya hanya yang terkuat yang bisa bertahan hidup, atau hanya yang terkuat yang bisa menang menghadapi seleksi alam.
Para ilmuwan evolusionis pasca Darwin lalu mengembangkannya lebih lanjut. Antara lain menyebutkan bahwa semua spesies makhluk hidup yang ada sekarang ini merupakan hasil proses evolusi spesies-spesies sebelumnya sehingga terbentuklah spesies baru yang bisa sama sekali berbeda dari spesies asalnya. Dengan demikian, menurut teori evolusi, bisa saja dikatakan bahwa semua makhluk hidup yang ada di bumi ini berasal dari makhluk bersel satu semacam protozoa.

Sebetulnya sampai sekarang teori evolusi ini masih menimbulkan pro-kontra. Tidak hanya di kalangan agamawan tetapi juga di kalangan ilmuwan, bahkan di kalangan agnostik (tidak mengakui keberadaan Tuhan) sekalipun. Kelompok yang kontra dengan teori evolusi ini disebut dengan “creationist” karena meyakini teori penciptaan (creation). Kelompok ini berpendapat bahwa spesies makhluk hidup tercipta oleh suatu proses yang mereka namakan dengan intelligent design (perancangan cerdas). Sangat mustahil, menurut mereka, sebuah spesies terbentuk hanya karena proses ‘kebetulan’ yang dapat memutasi gen.

Para evolusionis juga mengagas bahwa makhluk yang hidup di darat merupakan evolusi dari makhluk yang hidup di laut. Konon jutaan tahun lalu ada sekelompok ikan yang “gagah berani” ingin hidup di darat sehingga perlahan-lahan, melalui proses evolusi yang panjang, sirip-sirip dan ekor ikan berubah menjadi tangan dan kaki. Sesuatu yang sangat ditentang oleh para penganut teori penciptaan karena hingga kini tidak pernah ditemukan fosil ikan bertangan atau ikan berkaki (kecuali mitos puteri duyung, hehehe...).

Menurut penganut teori penciptaan, andai ada perubahan fisik karena menyesuikan diri dengan alam, tidak berarti makhluk tersebut berubah menjadi spesies baru. Dalam buku pelajaran biologi dikatakan bahwa jerapah yang semula berleher pendek berubah menjadi berleher panjang karena selalu berusaha menggapai daun pepohonan. Namun, andaikan memang betul leher jerapah berubah dari pendek ke panjang, tetapi dia tetap lah jerapah. Tidak berubah menjadi makhluk lain.

Dari kubu muslim, salah seorang yang getol melontarkan kontra terhadap teori evolusi adalah Harun Yahya (nama pena Adnan Oktar – penulis Turki yang produktif). Buku-buku dan video karya Harun Yahya yang menceritakan kegagalan teori evolusi dalam menjelaskan asal-muasal spesies makhluk hidup beredar dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Harun Yahya bahkan mengatakan bahwa penganut teori evolusi hanya berilusi semata tentang adanya setengah manusia setengah kera yang diklaim sebagai nenek moyang manusia. Lebih lanjut, Harun Yahya mengatakan bahwa gambar-gambar manusia semi kera tersebut hanyalah hasil imajinasi para seniman, karena fosil-fosil yang ditemukan para paleontolog tidak pernah lengkap; misalnya ada yang hanya ditemukan gigi dan tulang gusi saja, ada yang hanya tulang dahi saja, ada yang tulang kaki saja.

Ketika saya membaca salah satu surat kabar (saya lupa persis tanggalnya) sekitar dua minggu lalu dalam rubrik science-nya diberitakan bahwa ada sekelompok tim peneliti (kelompok evolusionis tentunya) menemukan fosil yang cukup lengkap sehingga setelah ditautkan membentuk manusia-kera yang tingginya sekitar 1,4 meter. Lagi-lagi pertanyaan tentang asal-usul manusia ‘mengganggu’ saya.

Sebagai penganut agama, bagaimana mesti menyikapi pertanyaan tentang asal-usul manusia ini? Dalam tradisi Islam, awal mula penciptaan manusia diceritakan dalam Alqur’anul Karim ketika terjadi dialog agung antara Malaikat dan Allah seperti diabadikan dalam Surat Albaqarah ayat 30 yang terjemahannya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Malaikat menjawab, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (2:30)

Saya lalu melakukan kilas-balik terhadap referensi yang yang pernah saya baca, diskusi, atau pun dari berbagai khutbah. Beberapa poin dari kilas-balik saya adalah:
  • Malaikat tidak memiliki pengetahuan tentang masa depan, terkecuali jika diajarkan ilmunya oleh Allah SWT. Maka bagaimana Malaikat dapat mengetahui bahwa manusia yang akan diciptakan (Bani Adam) akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah. Apakah pertanyaan kritis Malaikat tersebut karena belajar dari pengalaman sebelumnya, yaitu adanya ‘khalifah’ lain yang pernah diutus oleh Allah di muka bumi?

  • Menurut beberapa ulama, sebelum Allah menciptakan manusia, Allah pernah mengutus bangsa jin (yang disebut “JAN”) sebagai khalifah di muka bumi, tetapi gagal membawa amanah karena berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah. Dari sinilah Malaikat mengambil pelajaran sehingga melontarkan pertanyaan kritis terhadap Allah SWT.

  • Ada lagi referensi yang mengatakan bahwa sebelum alam semesta seperti yang sekarang ini pernah ada beberapa alam semesta lain yang telah mengalami peristiwa kiamat. Alam semesta yang telah kiamat tersebut juga pernah dihuni oleh manusia. Dari sinilah Malaikat mengambil pelajaran tentang watak manusia yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah sesama.
Kemudian timbul pertanyaan spekulatif lainnya. Apakah tidak mungkin makhluk yang dimaksudkan Malaikat tersebut adalah jenis-jenis manusia sebelum adanya Adam a.s., yaitu manusia pra Homo sapiens yang belum sempurna seperti Adam? Bukankah keberadaan manusia pra Homo sapiens ini sepertinya memang didukung oleh kajian ilmiah dengan adanya berbagai penemuan fosil oleh para ilmuwan kelompok evolusionis? Andai kita mau berspekulasi, tidak tertutup kemungkinan lain bahwa manusia pra Homo sapiens ini pernah diutus oleh Allah sebagai khalifah tetapi gagal mengemban amanah karena berbuat kerusakan dan menumpahkan darah sesama.

Namun, andai pula spekulasi khalifah manusia pra Homo sapiens ini bisa diajukan sebagai alternatif kemungkinan, tidak berarti Adam a.s. merupakan evolusi dari manusia-kera. Adam tetap diciptakan langsung oleh Allah dari tanah (atau zat tanah) sebagai bagian dari rencana tata ruang dan waktu alam semesta Allah SWT, bukan hasil mutasi gen dari jenis manusia sebelumnya. Sesuai dengan rencana kosmik Allah SWT pula, ada spesies yang punah ada spesies yang baru muncul diciptakan belakangan.

Akhir kata, hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.
Read more (Baca selengkapnya)...

Saturday, December 5, 2009

Miskin dan Tertimpa Bencana Karena Pilihan Sendiri



Kedengarannya memang aneh. Hidup kok malah memilih miskin dan tertimpa bencana. Bukannya memilih kaya, makmur, senang, dan terhindarkan dari bencana.

Begini ceritanya. Sekitar dua minggu lalu seusai jam kantor dan saat menunggu jemputan pulang, saya dan seorang kolega senior berbincang-bincang di lantai lobi. Setelah sedikit obrolan ngalor-ngidul tentang beberapa situasi terkini di Indonesia dia berucap, “Bangsa Indonesia menjadi miskin karena pilihan sendiri”. Sebetulnya kata-kata ini, walau tidak terlalu sering, sudah beberapa kali saya dengar dari orang lain. Tetapi mungkin karena ucapan teman di lobi sore hari itu sangat intonatif, kata-kata tersebut terngiang selama dalam perjalanan pulang ke rumah.

Apakah Bangsa Indonesia itu miskin? Kalau menurut berbagai lembaga kajian, seperti IMF dan Bank Dunia misalnya, sebetulnya Indonesia bukanlah negara termiskin. Maksud saya masih ada negara-negara lain di Asia dan – apalagi – Afrika yang lebih miskin dan tertinggal dibandingkan Indonesia; baik dari sisi pendapatan per kapita maupun indeks pembangunan manusia. Tetapi banyak orang sependapat bahwa pencapaian hasil-hasil pembangunan yang diperoleh Bangsa Indonesia setelah 64 tahun merdeka tidak sepadan dengan segenap potensi yang dimiliki Indonesia: potensi sumber daya alam yang dikandung tanah air Indonesia, letak geografisnya yang strategis, potensi flora dan fauna di lapisan biosfernya, keindahan topografi, dan jumlah tenaga kerja yang berlimpah. Dengan kata lain, semestinya Bangsa Indonesia jauh lebih maju dari sekarang ini.

Mei 2008, ketika heboh harga minyak mentah yang merangkak naik hingga sempat bertengger di level US$ 147 per barel dan Pemerintah Indonesia mengambil keputusan tidak populis dengan menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar rata-rata 30%, Pemerintah menggelontorkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada 19-an juta kepala keluarga. Jika rata-rata satu keluarga memiliki anggota sebanyak empat orang (ayah, ibu, dan dua orang anak), maka jumlah penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan sebanyak 76 juta orang – sekitar sepertiga dari jumlah total penduduk Indonesia. Kalau satu keluarga miskin rata-rata memiliki lebih dari dua orang anak, maka rasio penduduk miskin di Indonesia akan lebih besar lagi – bisa-bisa mendekati separuh dari total penduduk.

Bagi yang terbiasa hidup di tengah gemerlapnya kota-kota besar dan lingkungan pergaulan ala jet set dimana kehidupan sehari-harinya hanya seputar kantor, mal, café, dan tempat-tempat rekreasi, mungkin yang namanya kemiskinan itu tidak begitu terhendus. Paling-paling hanya sebatas melihat beberapa orang peminta-minta yang berkeliaran di lampu pengatur lalu lintas. Tapi coba kalau kita masuk ke pedesaan atau ke tempat-tempat yang terletak jauh terpencil di pedalaman, barangkali banyak orang yang dalam satu bulan belum tentu pernah memegang uang pecahan sepuluhan ribu rupiah.

Pertanyaannya, kenapa sih kok Indonesia miskin, atau lebih tepatnya kenapa porsi jumlah penduduk miskin di Indonesia masih banyak. Jawabannya: karena pilihan sendiri. Lho apa iya masyarakat Indonesia memilih hidup miskin? Nanti dulu, yang saya maksudkan “memilih” untuk miskin itu adalah para elit. Mereka – para elit – lah yang memilih untuk memiskinkan bangsanya. “Kelompok elit” disini saya definisikan sebagai orang-orang yang sangat berpengaruh dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan-keputusan strategis yang ber-impact pada kehidupan orang banyak. Para kroni yang memiliki kekuatan politik-ekonomi dan bisa mempengaruhi para pengambil keputusan juga bisa dikategorikan sebagai kelompok elit. Keputusan strategis tersebut tidak semata-mata menyangkut politik-ekonomi tetapi juga bisa menyangkut segenap aspek “ipoleksosbudhankam” – ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Kelompok elit yang jumlahnya hanya segelintir – jika dibandingkan dengan 225 juta jiwa penduduk Indonesia – itulah yang “mengatur” negara ini. Sayangnya tidak semua dari mereka berperilaku “lurus”, bukan? Kalau semua elit kita berperilaku lurus maka tentulah peringkat indeks persepsi korupsi di Indonesia tidak berada di kwartil pertama.

Ya, biang keladi kemiskinan yang mendera bangsa Indonesia adalah akibat ulah para elitnya sendiri. Misalnya saja begini: andaikan ada seorang elit yang diberi amanah untuk mengelola sumber daya alam dihadapkan pada dua pilihan, antara memilih keputusan yang lebih berpihak pada kemaslahatan bangsa atau berpihak pada kepentingan investor (pemilik modal). Jika sesuai dengan sumpah jabatannya atau sesuai dengan amanat konstitusi, tentu dia akan mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan bangsanya. Namun, karena elit tersebut bisa disuap akhirnya dia malah mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan si pemilik modal. Akibatnya sumberdaya alam yang semestinya bisa lebih memakmurkan masyarakat setempat dikeruk habis oleh si pemilik modal, masyarakat hanya mendapatkan tetesannya saja. Menjadi miskinlah masyarakat itu.

Katakanlah seorang elit menerima suap “hanya” sebesar Rp 1 miliar, lalu dia menimbulkan kerugian publik secara akumulatif yang jika divaluasi nilainya Rp 1 triliun. Keuntungan pribadi si elit berbanding public opportunity cost adalah 1 berbanding 1000. Berarti dia menghilangkan kesempatan makmur bagi rakyat yang kadarnya 1000 kali lipat dibandingkan uang yang dia peroleh. Ini sekedar ilustrasi bagaimana ulah elit yang secara sistemik memiskinkan bangsanya sendiri.

Pembangunan pemukiman mewah yang sebetulnya tidak sesuai dengan tata ruang secara makro juga termasuk ulah para elit yang lebih berpihak pada kepentingan pemilik modal. Studi AMDAL dibuat untuk menjustifikasi kemauan para pemilik modal. Persetujuan dan perijinan begitu gampang diperoleh disebabkan para elit mendapatkan “entertainment”. Begitu pemukiman mulai dibangun maka terjadilah gusur-menggusur. Banyak orang kehilangan tempat tinggal dan kehilangan kesempatan mata pencaharian. Setelah pemukiman dibangun, masyarakat sekitar yang berada di luar dan di hilir pemukiman tertimpa bencana banjir karena lahan pemukiman tersebut pada mulanya adalah lembah tempat penampungan air (situ). Keputusan si elit menimbulkan kemiskinan, frustrasi, duka, dan sengsara bagi rakyatnya.

Adanya “markus” (makelar kasus) adalah contoh dari ulah elit penegak hukum yang berkhianat pada sumpahnya sendiri. Adanya “makpro” (makelar proyek) dalam proyek-proyek infrastruktur juga merupakan contoh ulah para elit yang lebih berpihak pada kepentingan pemilik modal dan – tentunya – kepentingan dirinya sendiri karena mendapatkan “uang saku”.

Di sektor energi kita masih terus-menerus dilanda krisis listrik. Anehnya di kota-kota besar dimana banyak mal dan apartemen mewah dibangun pasokan listrik selalu tersedia. Coba kita jalan-jalan ke pinggiran kota, tidak perlu ke pedalaman pulau-pulau di luar Jawa, kita ke tempat-tempat pemukiman masyarakat jelata yang radiusnya hanya beberapa puluh kilometer dari kota Jakarta saja sudah terbiasa dengan hidup tanpa penerangan listrik. Betapa para pengambil kebijakan pembangunan terkesan tidak berpihak pada kepentingan bangsanya sendiri yang dalam banyak hal perlu pengentasan. Para elit banyak yang benci dengan kemiskinan, tetapi mereka sendiri terkesan tidak betul-betul bersungguh-sungguh untuk memberantas kemisikinan itu.

Tidak adanya integritas dan komitmen moral dari para elit inilah yang menyebabkan terhambatnya laju proses pembangunan di Indonesia. Tahu-tahu kita sudah tertinggal oleh negara-negara tetangga yang dulu belajar dari kita atau negara-negara yang dulu tingkat kemajuannya lebih rendah dari kita.

Tawar-menawar politik yang dilanjutkan dengan tawar-menawar posisi lalu dilanjutkan lagi dengan tawar-menawar give and take juga berpotensi akan men-drive sebuah keputusan di kelak kemudian hari yang sangat berpihak pada kepentinan pribadi atau kelompok tertentu, dan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak yang lebih luas - bahkan bisa mengenyampingkan kepentingan luhur bangsa.

Bangsa Indonesia masih banyak yang miskin, sengsara, dan sering tertimpa bencana (yang bukan murni “The Act of God”) adalah karena pilihan para elitnya sendiri. Kalau di tahun 2008 Pak Sutrisno Bachir sering tampil di berbagai media massa dengan jargon “hidup adalah perbuatan”, maka menurut saya “hidup adalah pilihan”. Sebab kita mesti membuat pilihan dulu baru bisa melakukan perbuatan. Kalau memilih miskin, ya jadi miskin. Memilih sengsara, ya jadi sengsara. Memilih bencana, ya sering tertimpa bencana.

Sebagai penutup, benarlah apa yang dikatakan oleh Mbah Peter Drucker (Empu Manajemen Modern yang sangat kondang), “There are no under-developed countries, but mismanaged countries”. Pada hakikatnya tidak ada negara terkebelakang, yang ada hanyalah negara yang salah kelola.
Read more (Baca selengkapnya)...

Monday, November 9, 2009

Pengaruh Uang dalam Penegakan Hukum


{Menyikapi kasus “cicak-buaya” yang akhirnya melibatkan “pertarungan segi empat” antara KPK, Kepolisian, Kejaksaan, dan publik, maka di bawah ini saya sarikan bahan kuliah dari Prof. Hikmahanto Juwana, Guru Besar UI yang juga salah seorang anggota Tim 8 kasus Bibit-Chandra. Bahan kuliah saya peroleh ketika berkesempatan mengikuti mata kuliah “Hukum dan Pembangunan” di Program Pascasarjana Studi Pembangunan ITB pada tahun 2003. Saya pikir topiknya masih sangat relevan dengan kondisi hukum di Indonesia sekarang ini}.

Salah satu faktor tidak berjalannya penegakan hukum di Indonesia adalah karena penegakan hukum terlalu didominasi oleh uang. Penegakan hukum sangat diwarnai dengan pejabat yang rentan untuk disuap. Di setiap lini aparat penegak hukum, termasuk para pendukung penegak hukum, sangat rentan terhadap praktrek korupsi dan suap.

Mereka yang tidak mempunyai uang bisa-bisa tidak mendapat keadilan. “Adil” dalam perspektif hukum bisa tidak berarti apa-apa apabila tidak didukung dengan uang. Dalam konteks demikian keberadaan keadilan secara hakiki tidak pernah ditentukan oleh hukum itu sendiri.

Di dalam masyarakat dan negara manapun fenomena yang menunjukkan uang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan proses hukum bukanlah hal yang baru. Perbedaannya terletak pada gradasi dari penyelewengan jabatan penegakan hukumnya. Di negara berkembang umumnya gradasi penyelewengan di masyarakat sangat meluas dan melebar. Hampir setiap sendi kehidupan uang berpengaruh terhadap wewenang yang dipegang oleh pejabat publik. Sementara di negara maju gradasinya tidak terlalu meluas.

Di bidang penegakan hukum, uang sangat berpengaruh terhadap wewenang yang dimiliki oleh aparat hukum. Di Indonesia kita bisa melihat betapa uang mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap penegakan hukum. Penegakan hukum akan berpihak pada mereka yang mempunyai uang, seolah sang “Dewi Keadilan” bisa mengintip dari penutup matanya terhadap siapa yang memiliki uang.

Uang dapat berpengaruh pada saat polisi melakukan pemberkasan perkara. Dengan uang pasal yang digunakan oleh polisi dapat diubah-ubah sesuai jumlah uang yang ditawarkan. Seorang yang melakukan pembunuhan, dengan catatan ada bukti-bukti, dapat dikenakan pasal yang sangat berat hingga yang paling ringan. Bisa saja pelaku pembunuhan disangka dengan pasal pembunuhan berencana (pasal 340 KUHP), pembunuhan yang disengaja tetapi tidak direncanakan (pasal 338 KUHP), pembunuhan yang tidak dilakukan dengan sengaja (pasal 351 KUHP), bahkan matinya orang yang disebabkan karena penganiayaan (pasal 359 KUHP). Di tingkat ini pasal mana yang akan dikenakan seolah tergantung pada uang yang disediakan kepada polisi yang mempunyai wewenang menyidik. Disini penggunaan pasal seolah menjadi bahan negosiasi antara polisi dengan tersangka. Bahkan di tingkat ini uang dapat berpengaruh pada perlu tidaknya pelaku ditahan selama penyidikan dilakukan.

Pada tingkat penuntutan oleh jaksa uang bisa berpengaruh terhadap diteruskan tidaknya penuntutan. Dengan uang bisa digunakan alasan sakit, tidak cukup bukti, tidak dianggap sebagai tindakan kejahatan, bahkan dideponir kasusnya. Apabila penuntutan diteruskan, uang dapat berpengaruh pada sanksi yang akan dikenakan. Apakah sanksi-sanksi berupa hukuman denda atau hukuman badan. Apabila hukuman badan yang hendak dijatuhkan, uang akan berpengaruh pada berapa lama hukuman penjara akan dikenakan.

Selanjutnya pada tingkat pengadilan dari yang terendah dingga tertinggi, uang berpengaruh pada putusan yang akan dikeluarkan oleh hakim. Uang dapat melepaskan atau membebaskan seorang terdakwa. Kalau terdakwa dinyatakan bersalah, dengan uang hukuman bisa diatur serendah dan seringan mungkin.

Bahkan di tingkat eksekusi putusan, uang juga berpengaruh di lembaga pemasyarakatan. Bagi mereka yang mempunyai uang, maka akan mendapat perlakuan lebih baik dan manusiawi daripada mereka yang tidak mempunyai uang. Perlakuan istimewa ini dapat berupa ruang tahanan yang lebih baik, perlakukan sopan dari petugas, hingga masalah kebebasan mendapatkan berita dan berkomunikasi dengan pihak luar.

Pengacara yang membela pun tidak luput dari uang. Uang sangat berpengaruh pada pengacara yang melakukan pembelaan di siding pengadilan. Uang sangat menentukan kualitas pengacara yang dapat disewa. Semakin besar uang yang disediakan semakin handal pengacara yang diperoleh. Terdakwa yang tidak memiliki uang, apalagi kasusnya tidak menyedot perhatian masyarakat dan media massa, harus puas dengan pengacara kacangan. Belum lagi dengan uang seorang terdakwa dapat menyewa pengacara yang mempunyai lobi bagus dengan para aparat penegak hukum. Disini tidak dipentingkan otak pengacara tetapi lebih dipentingkan koneksi si pengcara dengan polisi, jaksa, dan hakim.

Gambaran di atas menunjukan sudut-sudut dimana uang bisa berpengaruh pada proses penegakan hukum. Bahkan penegakan hukum disini tidak terbatas pada aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim, melainkan juga pada aparat penegak hukum lainnya. Aparat imigrasi, bea cukai, pajak dan lain sebagainya bisa masuk dalam kategori ini.

Tidak heran bila Indonesia sedang mengalami akibat yang luar biasa dari pengaruh uang. Keadilan, berita, undang-undang dan banyak lagi lainnya hanya berpihak pada mereka yang memiliki uang. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa pengaruh uang terhadap wewenang telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Berbagai upaya dilakukan untuk memberantas penyalahgunaan ini. Upaya hukum dilakukan dengan cara membentuk aturan seperti UU Tindak Pidana Korupsi dan mendirikan lembaga yang khusus menangani masalah korupsi dan kekayaan pejabat. Namun semua itu seolah tidak mempunyai makna.
Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, October 8, 2009

"Rings of Fire"



Sudah cukup lama meninggalkan blog. Memang irama hidup manusia seperti “bioritmik” berbentuk gelombang sinusoidal. Kadang di atas, kadang di bawah. Terutama yang namanya mood – atau suasana hati. Di bulan Ramadan kemarin entah kenapa saya tidak ada mood untuk menulis. Apakah karena gara-gara menjalankan ibadah puasa sehingga tidak ada energi tersisa untuk menulis, ataukah karena gara-gara di bulan Ramadan itu waktu dan pikiran begitu tersita untuk menjalankan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah? Ah, ini hanya excuses saja. Menjalankan ibadah di bulan Ramadan tidak mesti miskin produktivitas. Justru semestinya di bulan Ramadan kita mendapatkan suntikan tambahan energi spiritual untuk menjadi manusia yang lebih produktif.

Di jaman Nabi s.a.w. dan umat-umat sesudah beliau, banyak kegemilangan dan kemenangan justru didapatkan saat Ramadan. Konon Perang Badar dimenangkan di bulan Ramadan. Perebutan kembali Jerussalem oleh Salahuddin Al-Ayyubi konon juga terjadi di bulan Ramadan. Lalu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 yang menurut Kalender Islam bertepatan dengn 9 Ramadan 1364 H. Jadi pada hakikatnya Bulan Ramadan memang bulan kemenangan. Pendek kata, tidak ada alasan untuk tidak produktif di bulan Ramadan. Tapi kenapa saya tidak menulis satupun artikel di bulan Ramadan yang baru lalu? Ada dua alasan. Pertama, saya merasa tidak ada topik yang layak diangkat yang berkaitan dengan bidang kompetensi saya. Kedua, karena lagi terjangkit “M” - banyak “merenung” atau memang lagi “malas”, hehehe…

Setelah bencana tsunami di Aceh bulan Desembar 2004, begitu kerapnya Indonesia dilanda bencana. Baik yang sifatnya murni bencana alam, yang dalam bahasa hukum kontraknya sering disebut sebagai “the act of God”, sampai dengan bencana yang disebabkan ulah manusia sendiri. Sebulan terakhir paling tidak tercatat ada dua gempa tektonik besar yang melanda Indonesia. Gempa 7,2 skala Richter yang terjadi di Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009, dan gempa 7,6 skala Richter yang terjadi di Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009.

Tatkala melihat rekaman video amatir di televisi tentang runtuhnya sebuah bukit di Sumatera Barat yang menenggelamkan pemukiman penduduk, saya jadi ingat tenggelamnya kota Pompeii di Italia akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Lalu ketika saya menghubung-hubungkannya dengan cerita-cerita dalam Kitab Suci tentang umat-umat terdahulu, saya jadi ingat peristiwa kemurkaan Tuhan terhadap umat Nabi Luth a.s., dimana kota Sodom (Sadama) dan Gomorah (Amura) ditenggelamkan ke dalam bumi sebagai hukuman terhadap umatnya yang mengingkari ajaran Tuhan dan menzolimi nabi-Nya. Maka tidak heran jika banyak orang, terutama para alim ulama, mengaitkan peristiwa-peristiwa dahsyat di Indonesia dengan ayat-ayat dalam kitab suci. Ini dari perspektif agama.

Gempa memang kerap terjadi di Indonesia. Tiada hari tanpa gempa. Kita mungkin tidak menyadari bahwa di Indonesia ini bisa terjadi puluhan atau mungkin ratusan gempa setiap hari. Hanya saja dari gempa-gempa tersebut lebih banyak yang intensitasnya kecil – tidak dapat kita rasakan (hanya terbaca oleh alat pendeteksi gempa). Mengapa gempa kerap terjadi?

Saya bukan ahli geologi, saya coba mempelajarinya secara sederhana dari sudut pandang orang awam. Lapisan bumi paling luar yang disebut kerak bumi (earth crust) yang materinya berupa benda padat terdiri atas lempengan-lempengan (lihat gambar Tectonic Plate Boundaries di atas). Kerak bumi ini duduk di atas lapisan mantel atas bumi yang materinya berupa benda semi padat. Kalau dianalogikan, antara kerak dan mantel atas bumi ini ibarat sebilah papan yang terapung di atas lumpur – sangat labil dan rentan pergeseran.

Indonesia terletak di jalur pertemuan Lempeng Eurasia (Eurasian Plate) dan Lempeng Australia (Australian Plate) – dua lempeng yang menurut para geolog masih sangat aktif mengadakan pergerakan sehingga menimbulkan fenomena yang disebut “gempa tektonik”. Jalur pertemuan lempeng membentang dari sebelah barat Pulau Sumatera, lalu ke selatan Pulau Jawa, Bali, Sunda kecil, kemudian belok ke Kepulauan Maluku lalu ke utara Papua. Jalur pertemuan antar lempeng tektonik disebut dengan istilah RINGS OF FIRE – yang artinya cincin atau lingkaran berapi. Karena wilayah Kepulauan Indonesia memang terletak di jalur rings of fire, akibatnya Indonesia sangat rawan gempa. Wilayah yang berada dekat jalur rings of fire ini pada umumnya banyak didapati pegunungan berapi – baik yang masih aktif, istirahat (dormant), maupun yang sudah mati. Sepanjang pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa memang banyak didapati gunung berapi. Yang relatif jauh posisinya dari rings of fire adalah Pulau Kalimantan. Makanya di Kalimantan jarang terdengar berita terjadi gempa dan tidak didapati gunung berapi – bahkan Kalimantan langka pegunungan.

Wilayah kerak bumi yang terletak di jalur rings of fire memberikan dua sisi yang saling bertolak belakang terhadap manusia: sebagai berkah sekaligus memiliki potensi bencana dahsyat. Sebagai berkah karena pada umumnya wilayah yang terletak di jalur rings of fire tanahnya subur, pemandangan alam indah (topografi mempesona), banyak terkandung sumber daya alam (termasuk energi), serta kaya dengan spesies satwa dan vegetasi yang sangat beragam. Bilamana manusia yang menghuninya “cerdas”, maka secara teoretis manusianya semestinya hidup makmur. Sebaliknya, jika terjadi gempa tektonik berintensitas besar, maka daerah yang terkena gempa akan porak-poranda.

Yang paling utama perlu ditanamkan dalam mind set kita adalah bahwa wilayah Indonesia memang rawan gempa, bukan wilayah yang adem-ayem. Maka proses-proses pembangunan yang sedang dan yang akan dijalankan harus memasukkan unsur potensi bencana ini sebagai salah satu variabel input dalam membuat kebijakan.

Pada dasarnya bencana tidak pandang bulu dan zero tolerance – nol toleransi. Kita mesti terbiasa berpola pikir seperti orang-orang yang menghuni permukaan bumi yang iklim dan cuacanya nol toleransi terhadap manusia. Dalam artian, jika manusia tidak mampu menghadapi atau beradaptasi dengan kondisi alam dimana dia hidup, maka tidak akan ada kelangsungan hidup. Ambil contoh misalnya di belahan bumi yang memiliki empat musim, dimana perbedaan suhu udara antara musim dingin dan musim panas begitu ekstrimnya. Jika manusianya tidak mampu menghadapi perubahan iklim ini maka keberlangsungan hidupnya akan terancam. Contoh lain adalah Jepang yang orang-orangnya begitu “akrab” dengan perubahan cuaca empat musim dan juga rawan bencana gempa seperti Indonesia.

Alam yang nol toleransi justru menyebabkan penghuninya kreatif dan terangsang untuk mengeksplorasi semaksimum mungkin sisi-sisi kecerdasan pikirannya. Kalau kita perhatikan, negara-negara yang maju pada umumnya memiliki iklim (cuaca) yang nol toleransi, kerap terjadi bencana alam, dan bahkan banyak yang miskin sumber daya alam. Rupanya di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat dan miskin sumber daya alam, kreativitas justru terpacu. A smooth sea never makes a skillful mariner, laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh, kata pepatah orang Barat.

Maka dari dua sisi pada satu mata uang: kekayaan sumber daya alam Indonesia di satu sisi dan potensi bencana di sisi yang lain, semestinya bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang makmur dan unggul. Bukan makin hari terjebak dalam keterpurukan demi keterpurukan. Kita perlu merevitalisasi pikiran-pikiran cerdas kita agar mampu memaknai ayat-ayat Tuhan, seperti misalnya yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 163-164 di bawah ini:

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. Al-Baqarah: 163-164)

Bencana memang menimbulkan nestapa dan membanjirkan air mata. Banyak orang yang kehilangan sanak keluarga, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta-benda, bahkan kehilangan harapan. Untuk itulah kita perlu membantu saudara-saudara kita yang terimpa musibah; baik berupa bantuan moril (doa, dorongan semangat), maupun bantuan materil. “Hidup tidak sendiri” dan “kita tidak akan mampu hidup sendirian”. Allah SWT Yang Berkuasa Dan Yang Menentukan segalanya.

Ya Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim,
Kepada mereka yang tewas akibat gempa, jadikanlah mereka yang di akhir hayatnya menyebut asma-Mu sebagaimana layaknya wafat seorang syuhada,
Ampunilah dosa-dosa mereka,
Lapangkanlah alam barzah mereka.

Ya Allah ya Karim,
Kepada sanak keluarga yang masih tertinggal di dunia fana,
Tetap tegarkanlah iman mereka,
Jangan Kau putuskan asa dari diri mereka,
Agar mereka tetap mampu melangkah menuju masa depan

Amin, ya Robb
.
Read more (Baca selengkapnya)...

Wednesday, December 24, 2008

Selamat Tahun Baru Hijrah 1430 H dan Tahun Baru 2009 M



Happy new year! May tomorrow always be better than today. May God always cover the earth with His mercy. May peace take over the anger. May love take over the greed.

In the midst of sparkling electric lights. In the midst of new year’s parties. In the midst of the noises of trumpets. Let us pull away and bow for a moment, to deeply look at ourselves: why we live and what we live for.….. A very essential question but often forgotten.

Selamat tahun baru! Semoga hari esok senantiasa lebih baik dari hari ini. Semoga Tuhan selalu menyelimuti bumi dengan rakhmat-Nya. Semoga damai mengalahkan angkara. Semoga kasih-sayang mengalahkan nafsu serakah.

Di tengah kemilau cahaya lampu. Di tengah hingar-bingar pesta tahun baru. Di tengah riuhnya tiupan terompet. Mari sejenak kita menunduk, memandang diri sendiri: mengapa kita hidup, dan untuk apa kita hidup.... Sebuah pertanyaan sangat mendasar namun sering terlupakan.
Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, December 4, 2008

Pentingnya Membangun Karakter Manusia (Character Building)


Nenek moyangku: pemberani, percaya diri, dan punya harga diri.
[Mochtar Lubis].


Dunia makin tenggelam dalam resesi ekonomi akibat sistem kapitalisme global yang liar itu. Ternyata liberalisasi ekonomi yang tanpa kendali menyebabkan para kapitalis makin serakah, ingin mengeruk keuntungan sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin: get more by doing less and shorter. Spekulasi yang mereka lakukan di pasar modal mengakibatkan dunia terjerembab dalam krisis finansial. Mengapa dikatakan spekulasi? Karena transaksi yang dilakukan tidak riil. Hanya lewat kertas dan media elektronik saja. Saya ingat pelajaran agama jaman SMP dulu bahwa syarat sahnya transaksi jual-beli adalah: ada penjual, ada pembeli, ada benda yang ingin diperjual-belikan (benda tersebut riil – tampak di depan mata), ada alat tukar jual-beli (uang atau alat tukar lain), lalu ada akad jual-beli atau sale & purchase statement. Sementara dalam transaksi pasar modal tidak ada benda riil yang sedang diperjual-belikan. Gara-gara ketamakan para spekulan, seluruh dunia ikut menanggung akibatnya – termasuk sebagian besar rakyat Indonesia yang tidak tahu menahu. Saat ini sudah mulai terjadi gelombang PHK, harga barang berkomponen impor mulai membubung, industri mulai lesu. Sangat tidak fair!

Saya tidak ingin mengulas lebih lanjut tentang krisis finansial global ini karena jauh di luar kompetensi saya. Saya ingin sedikit melakukan semacam refleksi mengapa bangsa kita ini terasa lamban dalam mencapai kemajuan. Saya tidak bermaksud menjeneralisir opini saya. Mari kita renungkan, dengan kepala dingin tentunya. Anggap saja ini sekedar obrolan menyongsong akhir pekan.

63 tahun sudah kita merdeka. Tentunya sudah cukup banyak capaian kemajuan yang diperoleh melalui tahapan pembangunan dengan segala macam suka-dukanya. Namun ketika kita membandingkan negara kita ini dengan negara lain yang awalnya lebih kurang sama levelnya dengan negara kita atau bahkan dengan negara yang dulunya belajar dari kita, mungkin kita akan cukup terusik dan bertanya sendiri: kenapa sih kok bangsa kita ini lamban. Ini terlihat manakala kita membandingkan beberapa indikator pembangunan seperti indeks pembangunan manusia, tingkat kompetisi, pendapatan per kapita, tingkat penguasaan iptek, skor tata kelola pemerintahan, dan lain-lain.

Apakah intelegensi (kecerdasan) bangsa kita memang lebih inferior dari bangsa lain yang lebih cepat maju? Saya kira tidak demikian. Kembali mengingat pelajaran biologi jaman sekolah menengah – tanpa bermaksud mendukung teori evolusi Darwin – bahwa seluruh ras manusia di dunia dikelompokkan dalam satu spesies: Homo sapiens. Salah satu pertimbangannya adalah karena volume otak manusia dimana-mana sama. Tidak didapati varian yang berarti. Itu artinya secara given manusia sudah diberi Tuhan kesempatan yang sama untuk menjadi makhluk yang cerdas. Orang Indonesia yang sekolah di luar negeri rata-rata masuk peringkat top students. Orang Indonesia yang berkarir di luar negeri pun banyak yang mencapai posisi lini atas. Tetapi mengapa setelah mereka kembali ke Indonesia tidak bisa berbuat banyak? Adakah sesuatu yang salah dalam perilaku masyarakat kita?

Kebiasaan (habit) – menurut saya – beda dengan perilaku (attitude), walau perbedaannya terkadang sangat tipis. Kalau kebiasaan bisa dirubah. Misalnya seseorang yang biasa bangun tidur siang bisa berubah menjadi bangun tidur pagi manakala situasi memaksanya demikian. Perilaku susah dirubah karena dalam beberapa hal merupakan sesuatu yang sudah tertanam (inheren) dalam diri seseorang. Jadi perilaku sifatnya lebih mentalistik.

Saya mencoba mengetengahkan beberapa perilaku negatif yang menghambat kemajuan kita. Perilaku negatif ini ada yang mungkin sudah bawaan turun-temurun, ada yang timbul belakangan sebagai penyakit mental baru. Jika perilaku negatif tersebut sudah mewabah – sudah umum dan sudah menjadi bagian keseharian masyarakat kita – maka perilaku negatif tersebut dapat dikatakan sudah memasuki ranah budaya, sehingga dapat disebut sebagai nilai budaya. Nilai budaya negatif tentu saja.

AIDS. Yang dimaksud AIDS disini bukan penyakit yang disebabkan virus HIV, tetapi singkatan dari arogan, iri-dengki, dan serakah. Arogan artinya mau menang sendiri. Ini sering kita saksikan dalam berlalu lintas. Dia yang salah dan dia yang nyenggol, tapi dia yang merasa benar, malah pakai marah lagi.

Iri-dengki konon merupakan salah satu penyakit mental tertua pada diri manusia, sejak jaman Nabi Adam (ingat cerita Qabil membunuh Habil), walaupun banyak juga bangsa yang berhasil mengenyahkan penyakit ini. Dalam bahasa gaul diistilahkan dengan SMS – senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Lalu serakah, inilah biang keladi yang menyebabkan praktek korupsi beserta semua turunannya. Manusia sering lebih serakah daripada sapi. Kalau sapi keserakahannya akan berhenti manakala perutnya sudah kenyang. Kalau manusia keserakahannya tidak berhenti sampai terpenuhinya kebutuhan tujuh turunan.

Kurang integritas. Integritas disini lebih pada kejujuran yang dapat diandalkan. Walaupun malaikat Raqib dan Atid senantiasa mencatat, namun berbuat kebohongan jalan terus. Mungkin ini yang mengilhami om Achmad Albar dengan Gong 2000-nya membuat lagu "menanti kejujuran" yang sempat populer di paruh pertama tahun 1990-an.

Egois. Pak Syamsi Ali – orang Indonesia yang menjadi imam besar masjid di New York – pernah mengatakan bahwa orang Amerika itu memang individualistis (bersandar pada kemampuan diri sendiri) tetapi tidak egois, terlihat ketika begitu derasnya donasi dan banyaknya relawan saat badai Katerina menyerang Amerika. Sementara masyarakat kita makin lama makin egois (terutama di perkotaan), walau tidak individualistis – karena sering ngerumpi tanpa tujuan yang jelas. Nilai gotong-royong perlahan tapi pasti sudah mulai ditinggalkan. Ego sektoral yang menjadi penghambat pembangunan akhir-akhir ini – apalagi setelah otonomi daerah dijalankan – merupakan akibat dari perilaku egois.

Tidak sportif. Termasuk dalam kategori ini adalah tidak mau mengaku salah, tidak mau mengaku kalah, tidak mau bertanggung jawab, tidak dapat diandalkan, dan tidak berjiwa besar. Kita lihat hampir tiap pilkada ada kerusuhan pakai acara pengerahan massa, bahkan ada yang pakai aksi teror bom segala. Yang kalah tidak mau menerima kenyataan. Bandingkan dengan pidato John McCain yang terdengar sangat legowo tatkala menerima kenyataan Barack Obama memenangi pilpres Amerika Serikat awal Nopember 2008 lalu.

Tidak berani mengambil resiko. Ini akibat perilaku pengecut (duh, maaf ya). Seseorang dikatakan pengecut apabila tidak berani mengambil resiko karena melihat resiko dianggap sebagai bahaya sehingga dihinggapi rasa takut untuk mengambil keputusan. Akhirnya dia tidak pernah berbuat sesuatu yang berarti walau dia memiliki jabatan tinggi - alias want to be something but do nothing. Bisa dibayangkan jika Indonesia dipenuhi dengan orang-orang seperti ini (baik di pemerintahan maupun swasta). Proses pembangunan berjalan lamban.

Tidak memiliki akuntabilitas. Ini sering terasa pada sektor pelayanan publik. Banyak pejabat publik yang tidak mau menyadari bahwa tugasnya memberikan pelayanan maksimal bagi kebutuhan publik. Infrastruktur dibiarkan tidak memadai. Jalanan dibiarkan rusak berkepanjangan. Setelah diekspos oleh media massa atau memakan korban seorong pesohor dulu (ingat kasus meninggalnya Sophan Sophian) baru jalanan cepat-cepat diperbaiki. Sementara pengaduan dari rakyat biasa tidak digubris.

Tidak amanah (no trust). Tidak dapat dipercaya, tidak menjalankan komitmen yang sudah terucap atau janji yang sudah diikat dengan pihak lain. Perilaku tidak amanah ini merupakan salah satu penyebab hilangnya kepercayaan dunia internasional terhadap bangsa kita, mengakibatkan iklim dunia usaha tidak kondusif.

Etos kerja rendah, cenderung malas. Ini memang kasuistis. Para petani di desa dan para penjual sayur-mayur di pasar pagi adalah contoh orang-orang yang luar biasa rajin, sama sekali bukan pemalas. Para petani seharian memeras keringat. Para ibu dan bapak penjual sayur-mayur mungkin hanya memiliki waktu tidur beberapa jam saja. Namun di kelompok elit justru banyak orang malas. Mau gelar tanpa sekolah, akhirnya beli ijazah 'aspal'. Mau cepat kaya tanpa usaha, akhirnya maling dan tipu-tipu. Ingin naik jabatan tanpa prestasi, akirnya sibuk menjilat dan sikut kanan-kiri.

Ceroboh atau sembrono. Kerja asal jadi, tidak memikirkan keselamatan diri dan orang lain. Sekitar tiga tahun lalu di dekat tempat saya tinggal ada seorang balita mati karena lehernya terlilit selendang yang nyangkut di jari-jari roda sepeda motor akibat kecerobohan orang tuanya. Perilaku ceroboh ini menyebabkan hasil kerja tidak berkualitas, asal jadi, penuh dengan permakluman (excuses). Ada beberapa falsafah yang mesti dihilangkan pada bangsa ini, misalnya: biar lambat asal selamat, makan tidak makan kumpul, dan lain-lain yang sifatnya kontra-produktif. Bandingkan misalnya dengan falsafah "nol kesalahan" yang tertanam dalam nilai budaya Jepang sejak jaman samurai dahulu kala.

Tidak disiplin. Sering melanggar peraturan atau tidak mau diatur dengan baik. Sering kita jumpai dalam berlalu lintas sehari-hari. Pengendara dengan cuek - bahkan terlihat bangga - menerobos lampu merah, melawan arus lalu-lintas, melanggar verboden, zig-zag, atau tidak pakai helm. Tingkat kedisiplinan masyarakat kita tercermin dalam tata cara berlalu lintas.

Pendendam. Perilaku ini adalah efek lanjut dari iri-dengki dan tidak berjiwa besar. Karena tidak mau menerima kekalahan atau kekurangan diri sendiri, akhirnya dia sering mencari celah untuk menjatuhkan orang lain, meski dengan cara licik.

Tidak percaya diri. Ini biasa terjadi pada orang yang merasa tidak memiliki kompetensi. Namun banyak terjadi juga pada orang-orang yang yang memiliki jabatan tetapi sebetulnya tidak memiliki kemampuan intrinsik. Maka supaya pe-de dan jabatannya langgeng, dia bersandar pada praktek-praktek perdukunan dan paranormal. Praktek klenis seperti ini – percaya atau tidak – hingga sekarang masih cukup banyak dilakukan secara diam-diam. Yang terang-terangan pun banyak. Lihat saja iklan ramalan nasib oleh para pesulap dan paranormal yang sering ditayangkan di televisi.

Irasional. Tidak bertumpu pada landasan logika (rasio). Konon di era Presiden Gus Dur ada seorang menteri yang memerintahkan para doktornya untuk membangun PLTJ (pembangkit listrik tenaga jin) dan PLTD (pembangkit listrik tenaga dalam). Di era Presiden Megawati ada seorang menteri yang merasa mendapat wangsit lalu menggali harta karun di bawah kaki prasasti batu tulis Bogor. Kemudian yang paling akhir adalah kasus blue energy.

Pengecut, beraninya bergerombol. Lihat saja kalau ada konvoi atau iring-iringan, orang-orangnya terlihat garang-garang. Giliran sendirian, tak ubahnya seperti ayam basah. Tentang bergerombol ini Eep Saefullah Fatah mengatakan 'suka membuat kerumunan, tetapi tidak mampu menggalang barisan'.

Pemarah (Pemberang). Ini adalah penyakit mental yang makin banyak menghinggapi masyarakat kita. Betapa mudahnya marah. Betapa mudahnya membunuh. Betapa mudahnya melakukan mutilasi. Betapa mudahnya berbuat kerusakan saat demo. Betapa pemberangnya masyarakat kita. Sopan santun yang dulu menjadi nilai luhur bangsa sudah makin tergerus. Bangsa ini seakan sudah menjadi bangsa barbar.

Nah, itulah beberapa perilaku yang menurut pendapat saya cukup besar peranannya sebagai penghambat kemajuan bangsa. Tentunya masih banyak perilaku negatif lainnya yang terlalu panjang kalau dibahas semua. Sampai-sampai para sosiolog menjuluki masyarakat bangsa kita sebagai the sick society – masyarakat yang sakit.

Bagaimana merubah semua itu? Ya, tentunya lewat pembangunan karakter manusia sekaligus transformasi nilai budaya dengan tetap mempertahankan dan merevitalisasi nilai-nilai luhur yang dapat menjadikan kita sebagai bangsa yang unggul. Pencapaian pembangunan fisik selama ini – yang hanya bertumpu pada indikator ekonomi – belum berhasil membangun karakter manusia Indonesia. Malah dalam beberapa hal terjadi degradasi moral dan nilai budaya.

Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, September 25, 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H



Bulan Ramadan telah mendekati penghujung. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1429 H. Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. Marilah kita saling memaafkan dengan tulus agar kita dapat kembali ke fitrah kita seperti murninya embun pagi. Semoga pula semangat ramadan tetap dapat kita jaga sepanjang tahun.

Karena saya mau mudik, saya akan absen dari blog ini (tanpa artikel baru) untuk beberapa lama. Kepada rekan-rekan yang juga mudik, semoga selamat dalam perjalanan, baik pergi maupun pulang.

Selama nge-blog (baik menulis di blog sendiri maupun menulis komentar di blog lain), berkomunikasi lewat email, atau berinteraksi langsung tentunya ada tulisan, ucapan, atau perbuatan yang tidak berkenan. Untuk itu, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.


Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri, kawan
Maafkan aku jika ada kesalahan

Selamat Idul Fitri, langit
Maafkan kami
yang senantiasa mengelabukanmu

Selamat Idul Fitri, bumi
Maafkan kami
yang senantiasa menguras isi perutmu

Selamat Idul Fitri, satwa
Maafkan kami
yang senantiasa menghabisi habitatmu

Selamat Idul Fitri, hutan
Maafkan kami
yang senantiasa menebangmu

Selamat Idul Fitri, sungai
Maafkan kami
yang senantiasa mengotori dan
mendangkalkanmu

Selamat Idul Fitri, laut
Maafkan kami
yang senantiasa mengirim limbah
ke tepianmu

Selamat Idul Fitri, gunung
Maafkan kami
yang senantiasa menggundulimu
Read more (Baca selengkapnya)...

Saturday, August 30, 2008

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan 1429 H



Sudah seminggu lebih saya tidak meng-update blog ini. Saya dari di-'karantina' di luar kota dalam rangka mengikuti salah satu competency based training (pelatihan berbasis kompetensi). Nah, sebelum saya memposting artikel baru, perkenankan saya mengucapkan selamat memasuki dan menjalankan ibadah puasa bulan Ramadan 1429 H kepada rekan-rekan yang beragama Islam.

Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183:

Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumush shiyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la 'allakum tattaquun.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pada umat-umat sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa."

Supaya dapat menjalankan ibadah puasa dengan ‘plong’, saya meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas segala perkataan, perbuatan, ataupun tingkah laku saya yang tidak berkenan di hati rekan-rekan semua. Marilah kita menjalankan ibadah puasa ini dengan khusu’, damai, dan penuh cinta: cinta pada Sang Khalik, cinta pada sesama manusia, cinta pada sesama makhluk hidup, dan cinta pada alam yang telah memberi kita sumber dan zat kehidupan (energi, air, udara, makanan). Semoga Allah Swt menerima amal ibadah kita. Lebih penting lagi, semoga hikmah dan semangat Ramadan dapat kita jalankan terus sepanjang tahun.

Read more (Baca selengkapnya)...

Thursday, July 17, 2008

Voice of The Voiceless (Suara yang Tak Memiliki Hak Suara)



Dari pengertian tata kelola pemerintahan (governance) yang luas cakupannya, masyarakat mestinya merupakan salah satu aktor yang secara aktif dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Hanya saja pengaruh dan peranan masing-masing kelompok masyarakat akan berbeda-beda. Kelompok elit yang terorganisir dan mempunyai kepentingan tentunya dapat mempunyai pengaruh yang kuat dalam proses pengambilan keputusan. Sedangkan kelompok masyarakat bawah yang tidak mempunyai akses ke pusat kekuasaan serta jauh dari pusat informasi, akan sangat kecil peranannya. Bahkan cenderung tereksploitasi oleh pengambil keputusan. Akhirnya termarjinalkan.

Seringkali orang-orang termarjinalkan tersebut sebetulnya mempunyai kapabilitas untuk duduk di jajaran pimpinan pemerintahan ataupun perusahaan. Bahkan banyak yang lebih cerdas dan lebih bermoral daripada incumbent (pemegang jabatan saat ini). Namun waktu dan kesempatan tidak berpihak pada mereka. Ada yang karena tidak dipedulikan oleh para pengambil keputusan, ada yang karena lingkungannya tidak kondusif untuk melakukan kreativitas, ada yang karena lingkungannya tidak cukup ‘cerdas’ untuk memberinya kesempatan tampil, ada yang karena lingkungannya lebih mementingkan kemampuan ‘public relations’ tenimbang kemampuan teknis, ada juga yang memang tidak berminat. Lalu apa sikap hati yang mesti diambil oleh orang-orang termarjinalkan ini? Saya teringat Gede Prama pernah mengutip kata-kata Zenkei Shibayama, seorang biarawan Zen dari Jepang, dalam Scripture of No Letters:

A flower does not talk:
silently a flower bloom
in silence it falls away…
pure and fresh are the flowers with dew….
Then calmly I read the true world of no letters


Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya lebih kurang:

Bunga tidak pernah bicara:
mekar tanpa suara
berguguran tanpa suara….
segar dan murni bunga bersiramkan embun pagi….
Dalam hening, terbaca olehku makna ‘tanpa kata’ yang sesungguhnya


Ya, bunga memang tidak pernah bicara. Dipuja atau disingkirkan, dia tetap menyimpan sejuta pesona...... Pesona keindahan tanpa kata…..
Read more (Baca selengkapnya)...