Friday, June 19, 2009

Konsumsi Energi Dunia


“Current global trends in energy supply and consumption are patently unsustainable – environmentally, economically, socially. But that can – and must – be altered; there’s still time to change the road we’re on.”
— International Energy Agency


Energi primer adalah energi yang langsung tersedia/diberikan oleh alam dan belum mengalami proses lebih lanjut. Jika sudah mengalami proses perubahan (konversi) maka sudah masuk dalam kategori energi sekunder. Termasuk energi primer adalah minyak bumi (dalam wujud aslinya dari dalam bumi), gas bumi, batu bara, nuklir, biomassa, tenaga air (hidro), panas bumi, tenaga matahari (solar), tenaga bayu, dan tenaga ombak.

Salah satu satuan yang sering dipakai dalam menyatakan konsumsi energi primer adalah TOE (tonne of oil equivalent = setara ton minyak). Satu TOE didefinisikan sebagai berat/massa suatu jenis energi yang bisa menghasilkan energi setara dengan hasil pembakaran satu ton crude (minyak mentah) – yaitu 42 GJ (giga joule).

Menurut International Energy Agency (IEA), yaitu sebuah badan di bawah naungan kelompok negara OECD, dalam laporan tahunannya yang bertajuk World Energy Outlook 2008 (WEO 2008), konsumsi tahunan energi primer dunia pada tahun 2008 berada di level 12.000 MTOE (juta TOE); meliputi minyak, batu bara, gas, biomassa, nuklir, hidro, dan energi terbarukan lainnya. Bila diproyeksikan ke depan, konsumsi tahunan energi di tahun 2030 diprediksi berada di level 17.000 MTOE. Angka prediksi ini sudah mengakomodir skenario berbagai kebijakan/policy yang sudah dibuat dan diimplementasikan berbagai negara di dunia sampai tahun 2008. Dalam pengertian, jika setelah tahun 2008 tidak ada lagi kebijakan baru yang bisa men-trigger upaya lanjut peghematan dan diversifikasi energi, maka itulah angka ramalan konsumsi energi dunia di tahun 2030.

Rujukan lain yang juga cukup reliable dalam hal merekapitulasi kebutuhan energi dunia antara lain International Energy Outlook 2009 dari EIA (Energy Information Adminstration – sebuah badan di bawah naungan U.S. Department of Energy) dan Energy [R]evolution dari organisasi pegiat lingkungan Green Peace. Walau satuan yang digunakan di kedua laporan ini bukan MTOE, namun setelah satuannya saya konversi angka-angkanya tidak jauh berbeda dengan WEO 2008.

Berapa konsumsi energi tahunan di Indonesia? Menurut tabulasi dalam BP Statistical Review of World Energy 2008, konsumsi energi primer tahunan Indonesia di tahun 2007 sebesar 114,6 MTOE. Hingga sekarang saya belum menemui publikasi resmi berapa angka konsumsi energi Indonesia tahun lalu. Namun itu bisa dikira-kira. Dengan elastisitas energi sebesar 1,84 dan katakanlah pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 6%, maka diperkirakan konsumsi energi tahunan Indonesia di tahun 2008 sebesar 127 MTOE – sekitar 1% dari total konsumsi energi dunia. Walau angka ini mungkin agak kebesaran, namun mengingat BP tidak memasukkan panas bumi, tenaga matahari, dan biomassa dalam tabulasinya, maka angka konsumsi tahunan 2008 tersebut cukup masuk akal. Memang aneh juga, banyak informasi yang menyangkut tentang energi di Indonesia justru dikompilasi dan dipublikasikan oleh “orang-orang luar”.

Pertumbuhan konsumsi energi dunia dalam 20 tahun ke depan didominasi oleh negara-negara berkembang dan negara-negara yang bakalan menjadi raksasa ekonomi dunia. Kelihatannya isu lingkungan akan terus marak dan bisa jadi terus berkepanjangan karena konsumsi energi kelompok negara ini akan didominasi oleh energi fosil (minyak, batu bara, dan gas). Kelompok negara yang terus mendominasi pemakaian energi fosil adalah China, Timur Tengah, India, Afrika, Eropa Timur (Eurasia), Amerika Latin, dan negara-negara Asia lainnya. Sedangkan kelompok negara industri maju yang tergabung dalam OECD justru merefleksikan pengurangan (pertumbuhan negatif) terhadap pemakain energi fosil.

Negara-negara industri maju berpotensi besar mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil karena beberapa faktor:
  • memiliki kekuatan finansial serta komitmen untuk melakukan diversifikasi dan penghematan energi,
  • memiliki kemampuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi),
  • kurva supply-demand energi dapat dikatakan sudah mencapai titik ekuilibrium sehingga angka elastisitas energinya kecil – bahkan beberapa negara di Eropa Barat ada yang elastisitasnya negatif,
  • kesadaran dan komitmen yang tinggi terhadap isu-isu lingkungan, dan
  • budaya efisien.
Separuh dari pertambahan permintaan energi dunia akan dipakai untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi energi di China dan India. Energi fosil mendominasi konsumsi energi dunia hingga 80% dari energy mix (bauran energi) di tahun 2030. Pemanfaatan batubara meningkat paling tajam di antara ketiga jenis energi fosil tersebut.

Minyak masih merupakan bahan bakar dominan, terutama di sektor transportasi. Permintaan minyak bumi meningkat dari level 85 juta barel per hari pada tahun 2008 menjadi 106 juta barel per hari di tahun 2030 dengan porsi 30% dari total bauran energi primer. Penambahan produksi minyak untuk memenuhi kebutuhan dunia dalam 20 tahun mendatang diharapkan datang dari negara-negara OPEC yang memiliki jumlah cadangan besar dan biaya produksi relatif rendah.

Menurut skenario dalam WEO 2008, cadangan minyak dunia yang ada saat ini masih bisa memenuhi kebutuhan sampai 20 tahun mendatang asalkan ada penambahan investasi untuk kegiatan eksplorasi dan peningkatan teknologi – termasuk teknologi laut dalam dan teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery) bagi lapangan-lapangan minyak yang akan mengalami penurunan produksi (declining).

Yang menjadi kekhawatiran adalah, jika investasi gagal dilakukan dan ternyata produksi tidak mencukupi maka dunia akan terancam kekurangan pasokan minyak bumi. Situasi politik global bisa memanas. Adanya fluktuasi harga minyak di rentang 35 – 147 dollar AS per barel dalam satu tahun terakhir sudah membuat berbagai gejolak. Bukan tidak mungkin untuk mengamankan pasokan energi di negaranya masing-masing satu sama lain saling “rebutan”. Kalau sudah begini bisa bakalan seperti hukum rimba. Yang kuat yang menang. Makanya IEA mengatakan model supply–demand energi dunia yang ada saat ini sangat unsustainable; baik dari segi lingkungan, ekonomi, politik, maupun sosial. Skenario kebutuhan energi yang ada sekarang (existing) adalah skenario yang harus dirubah. Diperlukan berbagai terobosan dan komitmen lagi dari dunia internasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, khususnya minyak bumi.

Kemampuan masing-masing negara untuk mengamankan pasokan energinya di masa depan ditentukan oleh beberapa faktor:
  • kekuatan ekonomi,
  • ketercukupan cadangan dan produksi energi di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan sendiri (indigenous),
  • tingkat penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi),
  • kemampuan lobi di tingkat internasional, dan
  • kekuatan militersuatu hal yang sangat tidak mengenakkan!
Nah, dari kelima faktor tersebut bisa kita nilai posisi Indonesia ada dimana: kuat, sedang, atau lemah?

2 comments:

Eliana said...

gamil, dari kelima faktor tersebut jelas kita diposisi lemah,terus terang eli jadi miris,bagaimana kehidupan anak cucu kita nantinya. hemat energi yang digemborkan hanya berupa slogan semata.

tamrin said...

Salam kenal Mas... Izin kopi artikelnya untuk baca-baca...

Tamrin