Sunday, June 27, 2010

Mewaspadai Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme)




Bung Karno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia, pernah memperingatkan bahaya bentuk penjajahan model baru, yaitu apa yang beliau sebut dengan neo kolonialisme dan imperialisme  (nekolim). Penjajahan tidak lagi dalam bentuk koloni – menguasai wilayah bangsa lain, tetapi dalam bentuk penguasaaan ekonomi dan ideologi. Makanya Bung Karno dulu mencanangkan gerakan BERDIKARI (berdiri di atas kaki sendiri).

Penjajahan nekolim ini sifatnya laten, nyaris tidak tampak secara fisik. Mengejawantah dalam bentuk berbagai ketergantungan negara berkembang – terutama yang kaya sumber daya alam – terhadap negara maju. Modus operandinya pun sangat sistematis dan, seakan-akan, sangat logis. Sehingga tanpa disadari sebuah negara berkembang semakin terkungkung ketergantungan terhadap negara maju, alih-alih mampu mandiri.

Tidak dapat dipungkiri, setelah Revolusi Industri bergulir di akhir abad kedelapan belas, yaitu ketika James Watt di Inggeris berhasil membuat mesin uap komersial pertama dan kemudian diikuti dengan berdirinya negara Amerika Serikat (melepaskan diri dari koloni Inggeris), maka dunia mulai didominasi peradaban Barat. Bangsa-bangsa Eropa menjelajah berbagai belahan dunia, mencari pasokan sumber daya alam, memasarkan produk industrinya, sampai akhirnya membuat koloni (jajahan). Tanah air Indonesia sendiri merupakan salah satu korban peradaban Barat ini. Belanda merupakan bangsa Eropa yang paling lama menjajah Indonesia Raya. Inggeris dan Portugis juga sempat mendirikan koloni juga di Indonesia walau tidak luas dan tidak bertahan lama.

Ya, memang bangsa-bangsa Eropa yang ketika itu baru bangkit dari jaman renaissance membagi-bagi wilayah jajahan mereka di berbagai benua bak membagi-bagi kaplingan tanah. Lihat saja di Benua Afrika, misalnya, kalau diperhatikan ada sesuatu yang aneh pada batas-batas wilayah antar negara. Nyaris semua negara di Afrika memiliki garis batas wilayah berupa garis lurus atau bahkan berbentuk persegi panjang atau trapesium – persis bentuk kaplingan tanah di komplek-komplek perumahan.

Bung Karno dulu menyindir bangsa-bangsa Eropa dengan menyebut mereka sebagai “Nyi Blorong” – seekor ular yang panjang dimana perutnya ada di Eropa tetapi mulutnya bergerak-gerak dari Afrika ke Asia, menelan apa saja kekayaan sumber daya alam yang ada di kedua benua.


Setelah satu per satu bangsa-bangsa yang dijajah tersebut berhasil memerdekakan diri – baik melalui perjuangan berdarah maupun dimerdekakan oleh penjajah. Maka berakhirlah era penjajahan model tradisional. Akan tetapi, bangsa-bangsa Barat yang sudah kadung memiliki mindset ingin tetap menguasai berbagai belahan dunia sepertinya “tidak rela” jika bangsa-bangsa mantan jajahannya betul-betul merdeka seratus persen. Bahwa secara wilayah boleh saja suatu bangsa merdeka, tetapi secara ekonomi dan ideologi para negara maju menciptakan berbagai ketergantungan yang tak berujung-pangkal bak lingkaran setan, sehingga timbullah penjajahan model baru yang disebut Bung Karno sebagai neo kolonialisme dan imperialisme (nekolim).

Bagaimana kita mendeteksi modus operandi nekolim ini dalam kehidupan sehari-hari? Memang gampang-gampang susah karena, sekali lagi, selain laten juga seakan-akan sangat logis. Sulit merasakan bahwa sebetul nya itu bentuk penjajahan atau bukan. Mari kita lihat selayang pandang dari sisi ideologi dan ekonomi beberapa hal yang dapat dikategorikan atau dicurigai sebagai modus operandi nekolim.

Nekolim dalam Ideologi

Demokratisasi. Negara Barat memberikan sekaligus memaksakan contoh bahwa demokrasi model merakalah yang paling ideal di dunia ini. Padahal belum tentu demikian. Tergantung tingkat kemajuan, budaya, dan social capital sebuah negara. Kita lihat beberapa negara monarki di Timur Tengah dan di Asia rakyatnya tenang-tenang saja. Pada akhirnya kalau sistem pemerintahan mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya, maka rakyatnya tidak begitu mempedulikan apa bentuk pemerintahannya. Di China ternyata model demokrasi terpimpin satu partai cocok untuk kondisi mereka sehingga menghantarkan China menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua terbesar di dunia dari segi GDP. China bahkan sudah menjadi negara penjelajah ruang angkasa.

Demokratisasi di Indonesia belakangan justru menimbulkan fenomena anti demokrasi itu sendiri. Ketika orang atau kelompok begitu bebas menyuarakan aspirasinya, timbullah pemaksaan kehendak dari siapa yang merasa kuat atau siapa yang merasa dekat dengan pusat-pusat kekuasaan. Terjadilah tarik-menarik pengaruh yang berakibat terhambatnya laju proses-proses pembangunan. Saya sama sekali tidak anti demokrasi, tetapi apakah bentuk demokrasi yang kita jalankan seperti sekarang ini memang cocok untuk bangsa Indonesia? Are we in a right track or misleading?

Sekularisme. Agak sulit mendefinisikan apa itu sekularisme. Saya memakai definisi gamblang bahwa sekularisme adalah sebuah faham yang tidak mengacu pada ajaran ketuhanan dalam praktek kehidupan sehari-hari, termasuk tidak menjalankan praktek-praktek agamanya dengan baik dan benar. Berbagai propaganda dilakukan untuk menarik orang agar jauh dari kehidupan agamanya. Salah satu unsur sekularisme adalah faham materialis yang bercirikan serba ilmiah. Para ilmuwan seperti Charles Darwin dan Isaac Newton termasuk para tokoh faham materialis.

Pluralisme. Negara Barat mencuatkan isu pluralisme versi mereka sehingga negara lain seperti Indonesia terjebak pada diskursus berkepanjangan dalam memaknai pluralisme. Padahal sejak jaman nenek moyang dulu pluralisme sudah merupakan bagian dari kearifan lokal. Dalam tradisi Islam sendiri cara memaknai keberagaman beragama sudah jelas, yaitu “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” serta “tidak ada paksaan dalam agama”.

Akhirnya apa yang ditimbulkan dari penyusupan faham pluralis versi Barat ini? Kita lihat sering terjadi konflik horizontal antar kelompok. Yang satu merasa lebih benar dari kelompok lain. Yang satu merasa curiga terhadap yang lain. Tidak ada lagi saling percaya antar elemen bangsa.

Liberalisme. Faham kebebasan ini sebetulnya tidak hanya terkait ideologi tetapi juga dalam perekonomian. Secara ideologi terutama terkait isu-isu hak azasi dan persamaan hak. Seperti hak kaum homo,hak kaum wanita, hak kaum gay, dsb. Akhir-akhir ini cukup banyak organisasi pegiatnya. Yang dihasilkan dari faham ini juga berupa benturan-benturan sosial antara kubu pro dan kontra. Hal-hal yang semula telah disepakati sebagai pakem nilai tatanan sosial kemasyarakatan perlahan-lahan dilunturkan. Adanya pornografi dan pornoaksi yang kebablasan, seperti beredarnya video-video porno yang bikin heboh akhir-akhir ini, adalah contoh produk liberalisme. Mau seberapa bebaskah kita?

Sedangkan liberalisme dalam perekonomian antara lain dapat dilihat dari adanya liberalisasi sektor usaha atau badan usaha milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak, pencabutan berbagai subsidi, kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan, pasar bebas (tata niaga diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar), dan ujung-ujungnya akan berlaku hukum rimba dalam ekonomi (economic animals) yaitu yang terkuat yang menang. Liberalisasi inipun pada akhirnya akan menimbulkan monopoli dalam tata kelola bisnis akibat nafsu hewani para pelaku ekonomi.

Nekolim dalam Ekonomi

Senjata nekolim di bidang ekonomi terutama dalam dua hal: sumber daya finansial dan teknologi. Mereka banyak membuat negara berkembang terkungkung ketergantungan dari dua hal ini. Para neo kolonialis memberikan bantuan dalam bentuk “pinjaman lunak” kepada negara berkembang melalui lembaga-lembaga keuangan semacam IMF dan Bank Dunia. Sebagai kepanjangan tangan mereka adalah perusahaan-perusahaan multi nasional atau global enterprises. Karena terjerat hutang terus-menerus akhirnya sumber daya alam negara berkembang tergadai untuk membayar hutang, tidak pernah dapat digunakan secara optimal untuk memakmurkan rakyatnya sendiri. Gerak ekonomi Indonesia memang sangat tergantung kepada arus modal asing yang masuk atau keluar Indonesia, serta besarnya cadangan devisa yang terhimpun melalui perdagangan luar negeri dan hutang luar negeri.

Indonesia dalam berindustri sangat tergantung kepada import sumber-sumber teknologi dari negara-negara yang telah maju dalam berteknologi dan berindustri (industrially developed countries). Pemenuhan kebutuhan teknologi yang harus diperoleh melalui import tersebut seakan merupakan suatu keharusan, mengingat bahwa hampir semua kebutuhan teknologi di dalam berindustri pada dasarnya hanya dapat dipenuhi dengan impor teknologi. Import teknologi tersebut dapat terjadi melalui berbagai bentuk media pembawa teknologi, seperti: barang modal, bahan baku industri yang berupa produk-produk manufaktur, tenaga ahli, dan tak kalah penting adalah media pembawa teknologi yang berupa ‘commercial technological prescriptions’ yang diperoleh melalui mekanisme ‘licensing’.

Ketergantungan yang tinggi terhadap import teknologi ini merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab Indonesia terjerat ketergantungan terhadap neo kolonialis. Biang keladi penyebab ketergantungan akut terhadap import teknologi disebabkan industrialisasi di Indonesia yang dimulai dari proses produksi hilir (misalnya industri perakitan otomotif) tidak pernah berkemauan serius membangun dan mengembangankan sektor hulunya. Beda dengan di China dan India, misalnya, yang justru membangun industrinya dari sektor hulu terlebih dahulu baru kemudian berkembang ke sektor hilir.

Melalui kepanjangan tangannya pula para neo kolonialis menciptakan berbagai standar manajemen mutu, standar keselamatan kerja, standar pelestarian lingkungan, dsb yang sangat mahal biayanya. Namun jika tidak mengikuti standar yang mereka buat, negara-negara berkembang cenderung mereka kucilkan dari kancah pergaulan global. Padahal standar-standar yang mereka ciptakan tersebut belum tentu tepat sasaran dan cenderung berlebihan.

Kenyataanya, standar yang ekstra ketat dan kelewat canggih itu pun tidak menjamin akan tidak terjadinya insiden. Kita lihat insiden tumpahan minyak beberapa minggu lalu di Teluk Mexico, Amerika Serikat, di ladang minyak yang dioperasikan BP (perusahaan minyak raksasa berbasis di Inggeris). Kurang apa canggihnya BP dalam hal standar keselamatan dan perlindungan lingkungan, tetapi tokh bisa kecolongan juga. Sementara perusahaan migas lain, seperti dari China misalnya, yang standar keselamatan kerjanya tidak canggih-canggih amat belum pernah mengalami insiden lingkunngan separah BP. Terjadi atau tidaknya insiden memang bukan ditentukan oleh canggihnya standar keselamatan kerja semata, melainkan juga oleh faktor keberuntungan.

Nekolim dan Devide et Impera

Kalau diamati dengan seksama, cara-cara yang dilakukan neo kolonialis sama dan sebangun dengan politik penjajah devide et impera (memecah belah dan menguasai). Melalui penyusupan ideologi mereka memecah belah. Mereka menciptakan semacam segragasi pemikiran di antara kelompok-kelompak masyarakat. Masyarakat terpecah belah dalam berbagai mazhab. Akhirnya antar elemen masyarakat gampang dipertikaikan. Lalu lewat ekonomi mereka menguasai jiwa manusianya.

Dengan faham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme versi nekolim orang akan digiring untuk meyakini apa yang disebut dengan “agama global” yang tidak lagi berbasiskan ajaran-ajaran ketuhanan. Akhirnya umat manusia akan menjadi agnostik (tidak lagi mengakui keberadaan Tuhan).

Para pihak atau orang-orang di negara berkembang yang menjadi kepanjangan tangan dan penyambung lidah mereka biasanya diberi berbagai penghargaan dan puji-pujian di media massa. Walau prestasi yang diraih sebetulnya semu belaka. Kita lihat saja, cukup banyak para pegiat wanita dan tokoh “persamaan hak” yang mendapat penghargaan dari mereka. Mereka juga bisa menyusupkan ideologi nekolim melalui berbagai bantuan soft skill seperti beasiswa, pertukaran pemuda, dan pertukaran delegasi wanita. Sebaliknya, terhadap orang-orang atau negara yang menentang mereka akan mereka kucilkan.

Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari jerat nekolim adalah “berdikari” – seperti yang pernah dicanangkan Bung Karno. Ini sulit, tetapi tak dapat ditawar. Kita tidak perlu anti asing, namun kita harus menjalin hubungan kemitraan yang sejajar dengan pihak asing tanpa mengorbankan kedaulatan.

Jeleknya tata kelola pemerintahan serta lemahnya ketahanan dan pertahanan nasional sebuah bangsa merupakan katalis yang memperlancar masuknya ideologi asing, tidak hanya nekolim tetapi juga ideologi trans nasional yang mengajarkan kekerasan. Masalahnya: seberapa banyak yang peduli dengan bahaya laten nekolim ini? 

3 comments:

kazegdid.net said...

Mantap Gan , Infonya Sangat Bermanfaat

Ay Bayuaji K said...

Sangat memberikan wawasan dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa bagi rakyat Indonesia

Boboy Ph said...

itu bukan wawasan ga,, itu mengajak kita melawan nekolim!!..