Monday, November 10, 2008

The 3E Principle: Environment - Energy - Economy


Obama menang! Ya, Obama menang telak. Political dashboard di yahoo.com Jumat pagi, 7 Nopember 2008, menunjukkan Barack Obama meraih skor electoral votes 349 versus 162 terhadap John McCain. Lantas kalau Obama menang, so what gitu loh? Saya juga termasuk pengagum Obama. Tetapi kalau pertanyaannya apakah nanti setelah dia resmi aktif sebagai presiden Amerika Serikat – satu-satunya negara adidaya saat ini – kebijakan AS terhadap Timur Tengah dan negara dunia ketiga lainnya akan lebih fair? Waktu yang akan membuktikan. Selama ini kelompok zionis dan neo-konservatif (neo-con) merupakan invisible hands yang berada di balik kebijakan pemerintah AS. Change won't be that easy, but yes, we need CHANGE! Saya tidak ingin mengulas lebih lanjut tentang kemenangan Obama yang spektakuler ini karena, pertama, saya tidak begitu memahami masalah politik dan hubungan internasional; dan, kedua, boleh dibilang semua media sudah meliputnya. Saya kembali ingin menulis apa yang dapat saya “jangkau”, walaupun keterjangkauan itu masih jauh dari memadai.

Beberapa bulan lalu, saya lupa kapan persisnya, saya terlibat pembicaraan dengan seorang teman yang cukup menguasai permasalahan sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Pembicaraan tiba pada apa yang disebut dengan “The 3E Principle” atau “Prinsip 3E”, yaitu: Environment (Lingkungan), Energy (Energi), dan Economy (Ekonomi). 3E ini merupakan tiga elemen dasar pembangunan. Satu saja dari 3E ini terabaikan, maka pembangunan tidak akan berjalan baik, atau paling tidak kontinuitas pembangunan akan terganggu. Begitu kira-kira.

Lingkungan (environment) mencakup: (1) tatanan ekologi alami, termasuk semua jenis vegetasi, satwa, mikroorganisme, bebatuan, atmosfir, dan semua fenomena alami yang terjadi di dalamnya; (2) sumber daya alam, seperti radiasi matahari, energi, udara, air, dan iklim. Jika kita memandang bahwa pembangunan itu adalah suatu proses perubahan – baik perubahan yang jalan dengan sendirinya maupun karena adanya intervensi untuk menuju arah yang diinginkan – maka titik awalnya adalah lingkungan. Berawal dari lingkungan ini barulah menjalar proses-proses lainnya yang mendorong manusia menjalankan berbagai aktivitas untuk memenuhi keinginannya. Tuhan Yang Maha Mencipta menyediakan sumber bahan baku primer di alam untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Dan itu gratis, tidak perlu bayar! Maksudnya, orang atau kelompok yang pertama kali menguasai atau memiliki hak terhadap sumber daya primer tersebut tidak perlu membayar sepeserpun kepada Tuhan.

Energi arti harfiahnya adalah tenaga. Tanpa tenaga manusia tidak dapat melakukan mobilitas. Tanpa tenaga proses produksi tidak akan berjalan. Lalu bayangkan jika listrik padam. Dunia akan gelap gulita. Kita sulit melakukan aktivitas. Maka dapat saya katakan disini bahwa ada tiga peran utama energi dalam pembangunan: (1) membantu mempercepat mobilitas manusia; (2) menjalankan mesin-mesin produksi untuk mengkonversi beberapa jenis material menjadi produk akhir yang memiliki nilai manfaat (nilai ekonomi); dan (3) sebagai bagian infrastruktur yang sangat membantu kelancaran aktivitas manusia.

Energi yang diciptakan langsung oleh Tuhan dan tersedia di alam secara “gratis” disebut energi primer. Energi primer ini ada yang sifatnya terhabiskan (non renewable) dan terbarukan (renewable). Minyak, gas, dan batubara termasuk kategori non renewable. Sedangkan panas matahari, angin, ombak lautan, air, bio-energi, dan panas bumi termasuk kategori renewable – selama manajemen sumber energinya dilakukan dengan baik. Listrik bukanlah energi primer karena dia merupakan hasil konversi energi primer melalui perantaraan mesin pembangkit listrik.

Ekonomi atau lebih tepatnya indikator ekonomi merupakan tujuan perubahan yang hendak dicapai oleh suatu proses pembangunan. Sebetulnya sasaran pembangunan mencakup keseluruhan aspek kehidupan. Ketika jaman negara kita masih ada GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) aspek kehidupan yang dimaksud adalah ipoleksosbud (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Jadi ekonomi sebetulnya hanya merupakan salah satu aspek saja. Namun karena ekonomi ini sifatnya lebih terukur secara kuantitatif, maka orang lebih banyak terfokus pada indikator ekonomi dalam memonitor keberhasilan pembangunan.

Bagaimana keterkaitan atau hubungan imbal-balik ketiga elemen lingkungan-energi-ekonomi? Saya gambarkan diagram segitiga seperti di atas. Kita lihat dulu hubungan antara energi dan ekonomi. Hubungan energi dan ekonomi bertanda positif di kedua arah. Ini dapat dijelaskan sebagai berikut: banyaknya ketersedian energi akan memacu pertumbuhan ekonomi; sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang pesat memerlukan ketersediaan energi yang banyak.

Kita lihat sekarang hubungan imbal-balik antara energi-ekonomi dan lingkungan. Sebuah lingkungan alami yang posisinya diuntungkan secara geologis dan geografis biasanya tersedia sumber energi dan sumber daya alam yang berlimpah. Indonesia contohnya. Berarti hubungan searah dari lingkungan ke energi dan dari lingkungan ke ekonomi berkorelasi positif. Dapat dikatakan bahwa lingkungan yang penuh berkah akan menyediakan banyak energi sekaligus menyediakan banyak sumber daya alam lainnya untuk memacu pertumbuhan ekonomi manusia. Hubungan sebaliknya berkorelasi negatif, karena meningkatnya kebutuhan energi dan meningkatnya tuntutan kebutuhan ekonomi akan menimbulkan tekanan yang berat terhadap daya dukung lingkungan.

Tekanan berat terhadap daya dukung lingkungan merupakan problema berkepanjangan di negara-negara berkembang pada umumnya. Beberapa faktor yang dapat mendistorsi daya dukung lingkungan ini antara lain:

(1) Tuntutan ekonomi – baik karena sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup maupun karena ketamakan – menyebabkan manusia mengambil keputusan gamblang dengan mengeksploitasi lingkungan yang memang menyediakan berbagai sumber daya “gratis” itu.
(2) Lemahnya penegakan hukum mengakibatkan pengrusakan lingkungan makin tidak terkendali. Pejabat atau aparat yang diberi amanah untuk menjaga kelestarian lingkungan justru berperilaku bak rente ekonomi, ikut-ikutan “menjual” sumber daya gratis tersebut.
(3) Tingkat kesadaran atau kepedulian terhadap lingkungan yang masih rendah pada sebagian masyarakat.

Pengrusakan secara masif – menurut saya – cenderung termotivasi oleh sifat serakah manusia, jauh dari sekedar untuk memenuhi kebutuhan “cukup” yang wajar. Pengrusakan ini ada yang sifatnya langsung, misalnya penggerusan sumber daya alam secara besar-besaran; ada yang sifatnya tidak langsung, misalnya polusi.

Apa akibatnya jika lingkungan rusak parah? Dari sisi suplai energi – terutama energi tak terbarukan, kita akan kesulitan menambah penemuan cadangan energi. Dari sisi ekonomi, kita akan kehabisan sumber daya alam yang memiliki nikai ekonomi. Lalu bencana alam akan senantiasa menghantui. Dalam jangka panjang, jika pengrusakan dibiarkan terus menerus, maka proses pembangunan akan terhenti – apalagi jika kita tidak cukup memiliki uang untuk membeli sumber daya dari luar. Disinilah pentingnya konsep sustainable development, yaitu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang dengan tetap menjaga stabilitas daya dukung lingkungan. Sumber daya alam harus dikelola secara arif agar lingkungan masih dapat memiliki daya dukung yang memadai untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Pemanfaatan sumber daya alam terbarukan merupakan salah satu trend manajemen sumber daya masa depan. Jika belum apa-apa lingkungan sudah dieksploitasi secara membabi-buta hanya karena termotivasi oleh ketamakan, maka kita akan mewariskan bencana pada anak-cucu kita. Kalau di Indonesia bencana yang sudah terlihat akan terwariskan ke anak-cucu tersebut adalah banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

2 comments:

Nazaruddin said...

Om Gamil, urun rembug lagi nih ... supaya rame. Biasa, lagi gak ada kerjaan....he....he....he....

Om, nah ini baru ulasan dari ahli energi tentang konsep Pembangunan Berkelanjutan (Suistinable Development) dia lihat dari :The “3E” Principle. Kalau saya melihat ketiga pilar tsb dalam sudut pandang berbeda lagi, yaitu : EKONOMI, LINGKUNGAN dan SDM, karena SDM ini termasuk didalamnya adalah masalah kependudukan. Ha….ha…. ini sudut pandang saya lhoi, tapi saya juga lupa sumbernya. Namun kebanyakan referensi merujuk ketiga pilar itu adalah EKONOMI, LINGKUNGAN dan SOSIAL. Konsep ini memasukkan “energi” maupun SDM sebagai bagian dari lingkungan. International Atomic Energy Agency (IAEA, 2005) sendiri telah menerbitkan Energy Indicator for Sustainable Development (EISD) yang juga diperuntukkan untuk menilai peran energi dalam mencapai kondisi “Sosial, ekonomi, dan lingkungan” yang diinginkan oleh suatu negara. Memang kita sepakat bahwa ekonomi tampaknya menjadi sektor utama dan menjadi pusat perhatian dalam pembangunan berkelanjutan.

Kadangkala kita berpikir apalah arti dari pembagian tersebut. Bukankah yang penting bagi kita dan hajat orang banyak adalah aplikasi riil untuk mencapai tujuan mulia dari Pembanguan Berkelanjutan itu. Namun demikian mungkin akan lebih sempurna bila kita mengetahui banyak referensi sebagai tambahan wawasan kita. Wawasan ini sangat bermanfaat untuk mencari suatu kebenaran; tidak memutar-balikkan fakta demi menonjolkan apa yang menjadi interest kita.

Om Gamil, sungguh saya awam tentang ini. Mungkin ini bisa didiskusikan dengan teman Om Gamil yang ahli dibidang Pembangunan Berkelanjutan tsb. Yg jelas bagi saya bahwa Pembangunan Berkelanjutan di kita baru sebatas retorik ketimbang aksi. Otto Soemarwoto pernah menyatakan bahwa meskipun Indonesia telah menjadikan Pembangunan Berkelanjutan sebagai kebijakan pembangunan dan juga menerima Agenda 21-yang dihasilkan dari Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brazil, tahun 1992,-pada kenyataannya belum ada komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan

Gamil Abdullah said...

Om Nz, pertama-tama saya mau mengomentari komentar om Nz (loh, kok komentar dikomentari lagi). Komentar dari om Nz: bagus dan komprehensif. Saya sempat copy ke Word, makan satu halaman dgn font Times New Roman 12 pt. Kayaknya udah waktunya om Nz bikin blog sendiri nih (gak pake ngelash lagi lho), biar rame dan kita saling kunjung tentunya.

Sebetulnya focal point dari the “3E” Principle ini adalah masalah lingkungan. Bahwa gara-gara orang membutuhkan banyak sumber daya energi dan terdesak pada kebutuhan ekonomi, maka lingkungan – dimana terdapat berbagai sumber daya alam “gratis” itu – cenderung dieksploitir habis-habisan, terutama di negara berkembang – atau meminjam istilahnya Bung Karno “the new emerging countries”. Walaupun 3E (Environment, Energy, Economy) ini dikatakan elemen dasar pembangunan, tetapi mereka saling terkait dan di saat tertentu bisa menjadi output dari proses pembangunan yang sudah berjalan, tetapi di saat lain bisa menjadi input terhadap proses pembagunan yang akan berjalan.

Paradigma 3E ini memang terlihat agak “materialistis” karena hanya melihat sisi ekonomi sebagai indikator keberhasilan pembangunan. Kita ingat dalam pelajaran PMP dulu (wah, jadul amat ya) bahwa hakikat proses pembangunan adalah: (1) untuk menjadi manusia seutuhnya, dan (2) terjadi secara merata di seluruh pelosok tanah air. Maksud menjadi manusia seutuhnya adalah mencapai kemapanan dalam IPOLEKSOSBUD (ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya). Termasuk ideologi adalah religiusitas, ideologi negara, dan wawasan kebangsaan, Termasuk politik antara lain kematangan berdemokrasi. Termasuk ekonomi ya banyak, antara lain income per capita, daya beli, HDI, dan daya saing. Termasuk sosbud adalah ketertiban, keamanan, adat-istiadat, etos kerja, budaya iptek, trust (amanah), dll. Jadi sebtlnya ekonomi itu hanya salah satu saja dari tujuan pencapaian proses pembangunan yg sifatnya tangible. Sedangkan yg lainnya bersifat intangible atau sering disebut orang dengan istilah non-capital asset. Masing-masing elemen dalam ipoleksosbud tersebut akan saling mempengaruhi. Keberhasilan dalam satu elemen akan men-stimulus keberhasilan pada elemen yang lain. Namun sayangnya banyak orang yang menekankan pada ekonomi saja. Katanya kalau ekonomi maju maka elemen lain dalam ipoleksosbud akan ikut maju. Tentunya tidak begitu. Non-capital asset juga faktor dominan sebagai input sekaligus output dalam proses pembangunan. Keseluruhan elemen ini jika mapan akan membentuk karakter sekaligus ketahanan bangsa. Ini yang namanya “nation building”.

Lalu kenapa kok namanya 3E Principle? Kenapa tidak ESE Principle (Environment, Social, Economy)? Mungkin yang membuat paradigma 3E ini adalah orang yang ahli di bidang energi. Lagian kan kedengarannya enak pakai tiga huruf “E”, hehehe... Adalah umum bahwa kalau bikin-bikin diagram para ahli berkecenderungan memasukkan salah satu atau beberapa elemen sebagai point of interest-nya. Tapi sebetulnya kalau kita baca-baca lagi pencabaran para ahli tersebut, walaupun menonjolkan elemen yang berbeda-beda, pada akhirnya mencapai konvergensi yang sama: agar tujuan dari sustainable development tersebut bisa tercapai. Maka saya setuju dengan om Nz bahwa untuk menambah wawasan kita perlu mempelajari berbagai referensi dari berbagai perspektif yang berbeda-beda. Memang tidak ada kebenaran absolut.

Saya sependapat bahwa di Indonesia banyak hal yang masih sebatas wacana. Implementasi masih nol atau masih sangat minim. Termasuk Agenda 21, termasuk isu global warming, termasuk pembangunan berkelanjutan, dan isu-isu lingkungan lainnya. Ya, inilah produk reformasi, dimana politik dijadikan sebagai panglima. Politik, yang penuh retorika itu, kelihatannya menghasilkan orang yang “talk more but do less – or even do nothing” ketimbang “talk less but do more”.

Sekian ya Om Nz. Sepertinya balasan komentarku nggak seberapa nyambung ya. Saya juga masih awam kok dengan masalah kayak ginian. Jangan-jangan saya sok tau ya, hehehe….

Last but not least, trims comment-nya ya Om.