Thursday, May 29, 2008

Pilih pemimpin yang cerdas atau bermoral?

Isu moral atau tepatnya revitalisasi moral sering mencuat ke publik sehubungan dengan krisis multi dimensi yang (sedang) melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997. Bahkan kalau kita amati sekarang, dalam kampanye-kampanye PILKADA sangat sering ditonjolkan calon pemimpin daerah yang track record moralnya bagus - dikenal sebagai sosok yang 'jujur' misalnya. Memang banyak pihak berpendapat bahwa penyebab paling mendasar timbulnya krisis itu adalah karena tidak adanya komitmen moral dari para pemimpin, bukan karena tidak ada pemimpin yang cerdas.

Lalu dengan kondisi keterpurukan bangsa dan permasalahannya yang sangat sangat kompleks sekarang, kita harus memilih yang mana antara pemimpin yang cerdas atau bermoral? Banyak kalangan mengatakan lebih baik memilih pemimpin yang bermoral. Kalau menurut saya mesti memenuhi kriteria dua-duanya: cerdas dan bermoral. Lho kan namanya disuruh memilih itu mesti salah satu. Ya tetap harus memenuhi kriteria dua-duanya. Kalau tidak, maka good governance tidak akan jalan, rakyat akan dikecewakan di tengah jalan periode kepemimpinannya. Indonesia ini penduduknya lebih dari 225 juta jiwa. Pastilah cukup banyak orang yang cerdas sekaligus bermoral. Hanya mungkin bangsa ini saja yang tidak cukup cerdas dan tidak cukup bermoral untuk mencari, menyeleksi, dan mengangkat pemimpin yang memenuhi kedua krtiteria tersebut.

2 comments:

Dendi Kartini said...

Ha ha ha...iya juga mosok sih rakyat segini banyak...nomor 4 didunia lho...mosok gak bisa gitu lho milih satu aja ...Belanda pergi bukan berarti kita harus jadi bodoh dan terbiasa disuap.


Dendi Kartini, New York

Dendi Kartini said...

Yea...deep breath...and think...when we were at high school we were taught to be smart. Now, we're graduated! we should be smarter!


Dendi Kartini, New York