Monday, June 30, 2008

Catatan kecil dari Tangkuban Perahu


Sudah seminggu lebih saya tidak meng-update blog ini. Ceritanya, setelah anak-anak bagi rapor kenaikan kelas dan memasuki masa liburan, saya membawa rombongan (semuanya ada empat keluarga) menghabiskan waktu empat hari (23-27 Juni 2008) jalan-jalan di seputar Ciateur, Lembang, dan Bandung. Kami memilih rute ini sebagai tujuan semata-mata karena pertimbangan ekonomi: tidak jauh dari Jakarta, biaya terjangkau, tidak terlalu melelahkan, pemandangan alam mempesona, dan cuaca sejuk. Jadi kalau menurut hitung-hitungan Benefit to Cost Ratio, hasil kepuasan yang diperoleh sepadan dengan biaya yang dikeluarkan, begitu kira-kira analisa ekonomi sederhananya.

Rute perjalanan yang kami tempuh berada di jalur pegunungan wilayah selatan Jawa Barat. Cuaca sejuk cukup membantu dalam melakukan upaya hemat energi. AC kendaraan tidak mesti menyala terus, dan tempat menginap pun tidak memerlukan pendingin ruangan. Di Ciateur kami menginap di Sari Alam yang ada kolam renang air hangatnya. Tentunya kami menyempatkan diri untuk berendam. Anak-anak bermain air dengan riang. Mereka juga sempat mencicipi bagaimana rasanya menunggang kuda. Penyediaan air hangat alami di tempat-tempat wisata dan pemukiman adalah contoh pemanfaatan energi panas bumi secara langsung. Pemanfataan lain energi panas bumi banyak, mulai dari skala industri –untuk pembangkit tenaga listrik misalnya – sampai perikanan dan pertanian. Asalkan manusianya kreatif, akan banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari berbagai macam pemanfaatan energi panas bumi ini.

Agenda tanggal 24 Juni 2008 adalah tamasya ke kawah Gunung Tangkuban Perahu. Lihat foto tiga orang turis lokal (baca: anak-anak saya) di atas. Walaupun sudah pernah meletus dan terbentuk kawah di puncaknya, namun Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang masih ‘energik’ karena masih sering menyemburkan gas belerang berkadar tinggi dan masih sering menggelegakkan air panas pada kawahnya. Saya lalu teringat tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik: peningkatan suhu dan kadar gas belerang di sekitar kawah. Memang pernah beberapa kali otoritas setempat menutup sementara kawasan wisata ini agar tidak menimbulkan korban manusia. Rupanya kantor kecil perwakilan Direktorat Vulkanologi yang berada di lereng gunung cukup rajin melakukan pemantauan dan mengumumkan peringatan dini jika terdeteksi tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik.

Apakah Tangkuban Perahu ini hanya menarik karena dia merupakan objek wisata geologis saja? Bukan hanya itu, dia merupakan objek wisata geologis sekaligus wisata alam. Seingat saya, sejak tahun 1981 saya sudah sembilan kali mengunjungi tempat ini, dan tidak pernah merasa bosan dengan pemandangan alamnya. Saat berada di puncaknya lalu memandang ke arah Subang, maka akan terlihat topografi yang menurutku sangat memukau. Lukisan bentang alam yang membuat hati ini tidak hentinya memuji kebesaran Allah Sang Pencipta, glory be to You my God! Tidak heran seorang Bung Karno – sang pemuja keindahan – pernah mengatakan, “Tuhan menciptakan bumi Parahiyangan pada saat Dia sedang tersenyum.” Bagiku menikmati pemandangan alam yang indah juga merupakan wisata rohani.

Mengapa gunung ini dinamakan Tangkuban Perahu? Sebagaimana kita ketahui, Indonesia kaya akan cerita-cerita legenda. Rekan-rekan tentunya sudah banyak yang pernah membaca atau mendengar legenda Tangkuban Perahu ini. Singkat cerita, pada jaman dahulu kala seorang pemuda sakti bernama Sangkuriang jatuh cinta dengan seorang wanita cantik awet muda bernama Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri yang tidak dikenalinya lagi karena mereka sempat terpisah belasan tahun sejak Sangkuriang masih kanak-kanak. Sementara Dayang Sumbi masih bisa mengenali anak kandungnya. Sangkuriang harus membuat sebuah perahu yang selesai dalam waktu satu malam sebagai syarat yang diajukan Dayang Sumbi agar Sangkuriang bisa mengawininya. Sangkuriang yang sakti mandraguna itu sebetulnya mampu mengerjakan persyaratan itu, namun akhirnya ’dicurangi’ oleh Dayang Sumbi. Dayang Sumbi berusaha dengan segala daya upaya agar ayam berkokok walaupun waktu belum menyingsing fajar. Alhasil, ayam-ayam berkokok, berarti Sangkuriang gagal. Sangkuriang frustrasi dan menendang kuat-kuat perahu yang belum selesai itu. Perahu tersebut melayang jauh dan jatuh dengan posisi tertelungkup (tangkuban). Maka jadilah dia Gunung Tangkuban Perahu. Memang jika dilihat dari kejauhan bentuknya seperti perahu besar yang tertelungkup.

Hal lain yang juga menarik di puncak Tangkuban Perahu adalah oleh-oleh dan makanan. Harganya tidaklah terlalu mahal jika dibandingkan dengan di Lembang, masih cukup reasonable asalkan pandai menawar. Oleh-oleh berupa pakaian (baju kaos dan sweater) serta kerajinan tangan menurutku cukup unik, baik bahan maupun desainnya khas Tangkuban Perahu. Cuaca yang dingin di puncaknya – ada sebuah patok yang menunjukkan ketinggian 1850 m di atas permukaan laut – membuatku mencari minuman dan makanan yang dapat menghangatkan badan. Aku memesan dua potong ketan bakar dan menyeruput segelas bandrek. Ketan bakar banyak dijajakan di Bandung dan Lembang, namun entah mengapa makan ketan bakar di puncak Tangkuban Perahu rasanya lebih sensasional. Barangkali karena cuacanya yang lebih dingin dan kabut yang senantiasa menyelimuti.

Nikmatnya perjalanan sempat ternodai oleh perilaku tidak jujur penjaga pintu masuk. Akses masuk menuju puncak Tangkuban Perahu ada dua: satu dari arah Lembang, satu lagi dari arah Ciateur. Karena kami dari makan siang di Lembang maka saya putuskan ambil jalan masuk yang dari arah Lembang, dengan pertimbangan semestinya kualitas dua jalan masuk tersebut sama saja. Penjaga pintu mengatakan cukup membayar Rp 150 ribu saja untuk 12 orang dan dua mobil. Karena agak terburu-buru, saya langsung bayar dan karcis saya ambil saja. Setelah beberapa ratus meter melewati pintu barulah saya hitung, ternyata yang diberikan penjaga hanya 8 karcis untuk orang dan 1 karcis untuk mobil. Wah, penjaga pintu memperoleh untung pribadi sebesar Rp 33 ribu jika dibandingkan Rp 150 ribu yang telah saya bayar. Saya tidak terlalu mempersoalkan itu. Yang membuat kami sangat sebal dan merasa tertipu adalah ternyata kualitas jalan masuk yang dari arah Lembang sangat tidak layak dilalui oleh kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua – apalagi kendaraan jenis sedan. Kendaraan kami terseok-seok menempuh perjalanan 5 km sebelum menemukan jalan yang layak.

Mengapa pihak pengelola tidak menutup saja jalan akses yang dari arah Lembang ini, cukup yang dari arah Ciateur saja yang dibuka, sehingga para pengunjung tidak merasa tertipu. Apakah ini disengaja oleh oknum setempat agar tetap dapat memperoleh seseran dengan memanfaatkan ketidaktahuan pengunjung? Kelihatannya ketidakjujuran sudah menjalar sampai ke tingkat pelaksana paling bawah, sampai ke tingkat akar rumput. Padahal yang namanya bisnis pariwisata itu adalah kemasan satu paket objek wisata plus kejujuran. Pemandangan alam indah tetapi jika dipenuhi dengan oknum yang tidak jujur, maka akan membuat orang kapok untuk datang, apalagi bagi turis mancanegara yang terkenal sangat sensitif dan selektif itu. Bagaimana Visit Indonesia Year 2008 akan sukses kalau begini. Tidak heran jika rapor pariwisata kita tertinggal jauh dengan negara tetangga, sebut saja Singapura dan Malaysia, yang keindahan alamnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Indonesia tercinta ini.

Bagaimanapun kekecewaan kami cukup terobati setelah menikmati pesona bentang alam dari puncak Tangkuban Perahu. Ketika turun kami mengambil jalan keluar yang ke arah Ciateur, jauh lebih layak dibandingkan dengan jalan keluar yang ke arah Lembang. Sambil menikmati sejuknya desiran angin, saya menyiulkan lagu ’menanti kejujuran’, lagu yang pernah dipopulerkan oleh Achmad Albar dengan Gong 2000-nya di pertengahan tahun 90-an. Ya, menanti kejujuran, sebuah penantian yang entah kapan berakhir jika tidak ada transformasi dan penataan ulang nilai-nilai moral budaya bangsa. Praktek ketidakjujuranlah yang membuat bangsa ini carut marut.

1 comment:

Dendi Kartini, New York said...

Wow...what a pretty niece and handsome nephews! they are big now! The last time I went to Tangkuban Perahu was in 1998. I guess accomodation and other facilities are better now.