Monday, June 16, 2008

Logistik: business process yang sering dianaktirikan


Sebagian besar orang masih menganggap bahwa logistik itu pekerjaan yang sederhana karena yang terbayangkan adalah hanya merupakan kegiatan memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain dan bersifat administratif semata, tidak perlu melibatkan profesional ataupun pengetahuan yang canggih-canggih. Akibatnya secara umum di Indonesia SDM yang ditugaskan menangani logistik adalah orang-orang yang berkompetensi rendah. Padahal ada beberapa negara yang pendapatannya tinggi karena kepiawaian mereka mengelola industri jasa logistik ini, sebut saja Singapura misalnya.

Sejalan dengan kemajuan jaman, peranan logistik semakin dominan dalam memfasilitasi terjadinya transaksi ekonomi. Mata rantai aktivitas logistikpun melibatkan beberapa teknologi dan pengetahuan terapan lainnya. Maka dalam artikel mini ini saya akan memberikan sedikit paparan untuk menjawab pertanyaan:
1. Bagaimana logistik memegang peranan penting terhadap pertumbuhan sektor ekonomi.
2. Mengapa logistik di jaman modern sekarang memerlukan SDM yang berkompetensi tinggi.

Pengertian logistik

Logistik pada dasarnya merupakan jasa pelayanan (services). Dapat dikatakan sebagai industri karena walaupun produk akhirnya bukan berupa barang namun memiliki perangkat-perangkat dan fasilitas serupa dengan yang dimiliki oleh industri berbasis produksi barang, yaitu:
· Berdiri sebagai suatu institusi (perusahaan).
· Mempunyai SDM yang mengelola pelayanan.
· Mempunyai fasilitas pendukung untuk menunjang kegiatannya; berupa perkantoran, pergudangan, alat transportasi, modal finansial, dan peralatan komunikasi (sistem informasi).

Dalam beberapa buku rujukan, logistik sering juga disebut dengan distibusi barang, penghantaran barang, manajemen material, dan manajemen mata rantai pasokan (supply chain management); namun semua istilah tersebut mengandung pengertian pengelolaan lalu lintas barang dari tempat asal (point of origin) ke tempat pemakaian (point of consumption) atau bahkan ke tempat pembuangan (disposal). Barulah kemudian sebuah organisasi yang bernama The Council of Logistics Management (CLM) yang merupakan wadah para profesional logistik pada tahun 1993 mendefinisikan manajemen logistik sebagai berikut:

Manajemen logistik merupakan proses perencanaan, pelaksanaan dan pengontrolan lalu lintas barang serta penyimpanan barang, jasa, serta informasi yang terkait dengannya secara efektif dan efisien mulai dari tempat asal penerimaan sampai dengan tempat pemakaian sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan yang diminta oleh pemakainya.

Dari definisi di atas, terlihat bahwa ada tiga unsur yang dikelola oleh logistik, yaitu barang, jasa, dan informasi. Lalu dikatakan bahwa pengelolaan haruslah bersifat efektif dan efisien karena kegiatan logistik berada dalam suatu domain jarak (ruang), waktu, dan komponen-komponen biaya yang menyertai mata rantai kegiatannya.

Peranan logistik dalam tatanan makro

Logistik memegang peranan strategik dalam ekonomi suatu negara karena dua hal. Pertama, kegiatan logistik merupakan salah satu aktivitas yang membutuhkan biaya besar (major expenditure) terhadap suatu kegiatan bisnis, dan karenanya dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kegiatan sektor ekonomi lainnya. Di Amerika Serikat, misalnya, pada tahun 1996 kontribusi logistik terhadap GDP mereka sekitar 10,5 persen. Industri di Amerika Serikat pada saat itu menghabiskan sekitar 451 milyar dollar untuk jasa transportasi dan pengiriman serta 311 milyar dollar untuk pergudangan, penyimpanan, dan inventori. Pada tahun 1980, pengeluaran biaya logistik di Amerika Serikat mencapai 17,2 persen dari GDP meraka. Pengeluaran biaya logistik yang besar akan mengakibatkan tingginya harga produk akhir yang dikonsumsi oleh konsumen dan/atau kecilnya keuntungan bersih yang diperoleh oleh sektor industri. Dengan demikian, jika dilakukan efisiensi biaya operasional, maka logistik dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Kedua, logistik merupakan soko guru terhadap kelancaran transaksi ekonomi karena berperan sebagai fasilitator terhadap jual-beli barang dan jasa. Jika barang tidak sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu, konsumen tidak dapat membelinya. Jika barang tiba di tempat yang salah atau dalam kondisi yang sudah rusak, maka transaksi jual-beli juga tidak dapat terjadi. Dengan demikian, logistik memegang peranan penting terhadap terjadinya transaksi ekonomi agar seluruh mata rantai aktivitas ekonomi tidak terganggu.

Peranan logistik dalam tatanan mikro serta “trickle-down effect”-nya

Untuk melihat bagaimana logistik berpengaruh terhadap sektor industri/jasa lainnya, kita lihat tipikal mata rantai kegiatan logistik pada perusahaan minyak dan gas bumi (migas). Misalnya perusahaan migas tersebut membeli beberapa barang dari para pemasoknya. Maka si pemasok akan menggunakan jasa transportasi untuk menghantarkan barang tersebut ke tempat penyimpanan sementara. Lalu logistik perusahaan migas tersebut akan menditribusikan barang tersebut ke tempat penerimaan di lapangan. Selanjutnya logistik lapangan akan mendistribusikan barang tersebut lebih lanjut kepada pemakainya.

Dari mata rantai aktivitas logistik tersebut logistik memerlukan faktor-faktor pendukung berikut:
· Pemasok barang.
· Jasa dan teknologi transportasi (alat angkut dan pemindah barang).
· Jasa perbankan dan keuangan.
· Jasa asuransi.
· Jasa kesehatan.
· Jasa pelabuhan.
· Jasa pergudangan.
· Jasa dan teknologi IT, karena kegiatan logistik di jaman modern menuntut informasi yang akurat dan cepat.
· Tenaga kerja (SDM) yang terlibat dalam setiap lini mata rantai kegiatan logistik.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terjadi saling keterkaitan antara logistik dengan faktor-faktor pendukungnya. Logistik yang maju dapat mengangkat pertumbuhan ekonomi para stake holder-nya. Sebaliknya, bila industri pendukung dan SDM-nya lemah atau situasi ekonomi secara makro tidak kondusif, maka logistik akan termarjinalkan peranannya.

Keterkaitan logistik dengan politik

Seperti telah saya kemukakan di atas, logistik merupakan fasilitator terhadap transaksi ekonomi. Bila situasi politik tidak tidak stabil, maka transaksi ekonomi akan sedikit. Jika transaksi ekonomi sangat minimal atau tidak ada, maka kegiatan logistik pun tidak akan berkembang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa industri jasa logistik akan berkembang dan tumbuh dalam situasi politik yang kondusif. Sebaliknya, kelancaran komunikasi politik juga akan ditentukan oleh kualitas logistik yang handal.

Keterkaitan logistik dengan teknologi dan pengetahuan lainnya

Untuk menjalankan tugas-tugas pokok logistik, teknologi yang memegang peranan dan harus dikuasai oleh pelaku logistik ialah:
· Teknologi transportasi.
· Teknologi pengepakan barang.
· Teknologi alat berat.
· Teknologi IT.

Sedangkan pengetahuan lain yang diperlukan terhadap kelancaran aktivitas logistik ialah:
· Manajemen transportasi.
· Pengetahuan barang.
· Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain secara efektif dan efisien.
· Manajemen biaya (cost control) terhadap mata rantai kegiatan logistik.
· Pengetahuan yang memadai terhadap penerapan suatu teknologi yang tepat guna.
· Manajemen mutu, misalnya standar ISO 9000.
· Pengelolaan lingkungan, misalnya standar ISO 14000.
· Pengetahuan tentang isu-isu logistik global, misalnya AFTA, NAFTA, dan WTO.
· Pemahaman terhadap peraturan-peraturan yang terkait dengan kegiatan logistik.

Tanpa penguasaan yang memadai terhadap teknologi dan beberapa pengetahuan terapan di atas, maka seorang pelaku logistik tidak akan dapat menjalankan fungsinya secara optimal.

Beberapa poin penting

1. Logistik sebagai industri jasa mempunyai keterkaitan dengan aspek ekonomi, politik, teknologi, SDM, dan lingkungan.
2. Logistik mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi karena merupakan fasilitator terjadinya transaksi ekonomi.
3. Industri jasa logistik yang tumbuh dan berkembang dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, situasi ekonomi yang kondusif juga dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan industri jasa logistik.
4. Karena kegiatan di bidang industri jasa logistik melibatkan beberapa teknologi dan pengetahuan terapan, maka logistik memerlukan SDM yang handal.

Referensi

1. Lambert, D.M. and Stock, J.R.: Strategic Logistics Management, 3rd ed., McGraw-Hill, Singapore, 1998.
2. Gamil Abdullah: “Year 2003 Material Logistics Focus”, Personal presentation, unpublished
.

1 comment:

irma said...

bagus nih postingannya..
pas bgt saya mau ujian ni pak.
terimakasih ^^